Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Di tengah pembatasan ekspor teknologi yang dipimpin Amerika Serikat, China kini berharap pada CXMT Corp yang sukses menggelar IPO terbesar di Asia.
Produsen chip memori CXMT Corp berhasil menghimpun dana 57,92 miliar yuan atau sekitar Rp153,6 triliun melalui penawaran umum perdana saham.
Reuters melaporkan, dana jumbo tersebut menjadikan IPO CXMT sebagai yang terbesar di Asia sepanjang 2026.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan strategi Beijing memanfaatkan pasar modal untuk memperkuat perusahaan teknologi nasional di sektor strategis.
CXMT, yang sebelumnya bernama ChangXin Memory Technologies, dijadwalkan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Shanghai pada Senin (27/7). Perusahaan menawarkan 6,69 miliar saham dengan harga 8,66 yuan per saham.
Apabila opsi over-allotment digunakan seluruhnya, total dana yang diperoleh dapat meningkat menjadi 66,61 miliar yuan atau sekitar Rp176,7 triliun.
Opsi ini memungkinkan penjamin emisi menjual saham tambahan ketika permintaan investor lebih tinggi dari jumlah saham yang ditawarkan.
Baca Juga: AS Peringatkan Volatilitas Yen yang Berlebihan, Desak BOJ Kerek Suku Bunga
Cara Baru China Hadapi Tekanan AS
Pemerintah China terus mendorong penggunaan modal publik untuk membangun perusahaan teknologi unggulan demi mencapai kemandirian di bidang semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI), menyusul berbagai pembatasan ekspor teknologi yang diterapkan Washington.
CXMT sendiri memproduksi DRAM (Dynamic Random Access Memory), yaitu chip memori yang digunakan pada komputer, smartphone, server pusat data, hingga sistem kecerdasan buatan.
Produk ini merupakan salah satu komponen penting dalam pengembangan infrastruktur AI modern.
Mengutip Reuters, dana hasil IPO akan dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi chip, memperkuat riset dan pengembangan (R&D), serta menambah modal kerja guna mendukung ekspansi bisnis.
CXMT kini telah menjadi produsen DRAM terbesar di China dan menempati peringkat keempat di dunia. Fakta itu menjadikannya aset strategis dalam ambisi Beijing mengurangi ketergantungan pada pemasok chip asing.
Baca Juga: Tarif Sementara AS Sebesar 10% Berakhir, Trump Akan Berlakukan Bea Masuk Kerja Paksa














