Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Bank sentral China mulai mengambil langkah untuk mengendalikan melimpahnya likuiditas di sistem keuangan. Otoritas moneter negara tersebut meminta bank-bank besar milik negara mengurangi aktivitas pinjaman di pasar antarbank guna menjaga suku bunga pasar tetap sejalan dengan suku bunga kebijakan.
Berdasarkan laporan Bloomberg (12/6), People's Bank of China (PBOC) baru-baru ini menginstruksikan sejumlah lembaga keuangan, termasuk bank-bank kebijakan, untuk mengendalikan pinjaman bersih mereka kepada bank lain. Langkah ini dilakukan agar biaya pendanaan jangka pendek tidak turun terlalu jauh di bawah suku bunga acuan yang ditetapkan bank sentral.
Kebijakan tersebut menunjukkan PBOC mulai kurang nyaman dengan kondisi pasar uang yang terlalu longgar. Selama beberapa bulan terakhir, kelebihan likuiditas mendorong suku bunga pinjaman jangka pendek ke level terendah dalam beberapa tahun sekaligus memicu kenaikan harga obligasi pemerintah.
Dalam beberapa pekan terakhir, bank sentral China mulai menyerap sebagian dana berlebih dari sistem perbankan. Hasilnya, suku bunga repo semalam, yang menjadi indikator utama biaya pendanaan jangka pendek, naik menjadi 1,4% dari sekitar 1,2% pada April lalu. Kenaikan tersebut membuat suku bunga pasar kembali sejalan dengan suku bunga kebijakan PBOC.
Perubahan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun naik menjadi 1,75%, dibandingkan sekitar 1,7% pada awal bulan ini. Kenaikan yield mencerminkan berkurangnya tekanan likuiditas yang sebelumnya mendorong investor memburu surat utang pemerintah.
Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Akhiri Jeda 2 Hari, Gelontorkan 215 Miliar Yuan ke Pasar
PBOC kini menghadapi dilema kebijakan. Di satu sisi, bank sentral perlu menjaga ketersediaan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tengah menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi global. Namun di sisi lain, otoritas juga ingin mencegah dana murah hanya berputar di sektor keuangan dan memicu gelembung harga aset.
Tekanan tersebut muncul ketika permintaan kredit dari rumah tangga dan dunia usaha masih lemah. Kondisi itu membuat bank-bank lebih memilih menyalurkan dana ke pasar antarbank atau membeli obligasi ketimbang menyalurkan kredit ke sektor riil. Akibatnya, pertumbuhan kredit China melambat ke level terendah dalam sejarah.
Di tengah tingginya harga minyak yang menekan inflasi konsumen dan produsen, sejumlah ekonom kini memperkirakan PBOC belum akan memangkas suku bunga acuan hingga 2027. Karena itu, pasar sebelumnya berharap bank sentral tetap mempertahankan likuiditas yang longgar untuk menopang aktivitas ekonomi.
Meski demikian, langkah terbaru PBOC menunjukkan fokus kebijakan mulai bergeser. Bank sentral tampaknya lebih menekankan stabilitas pasar uang dan efektivitas transmisi kebijakan moneter dibanding terus membiarkan dana murah membanjiri sistem keuangan.
Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Pertahankan Pembelian Emas Selama 17 Bulan Berturut-turut












