Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Pasar saham global bergerak relatif stabil pada perdagangan Rabu (12/8/2026), sementara harga minyak kembali menguat setelah serangkaian serangan terhadap kapal di Timur Tengah mengurangi harapan bahwa perang Iran akan segera berakhir.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan berikutnya.
Amerika Serikat dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan adanya serangan terpisah terhadap pelayaran. Pada saat yang sama, Iran dan AS meningkatkan retorika mereka dalam beberapa hari terakhir.
Pejabat keamanan senior Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pada Selasa bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan tetap ditutup apabila AS tidak menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.
Konflik tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi global karena harga energi tetap berada pada level tinggi.
Harga Minyak Naik, Selat Hormuz Jadi Perhatian
Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$83,89 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent meningkat 0,7% menjadi US$89,49 per barel.
Kedua harga acuan minyak tersebut berada di jalur kenaikan untuk hari perdagangan keenam berturut-turut. Pada perdagangan Selasa, keduanya ditutup lebih tinggi lebih dari US$1 per barel, sekaligus mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 31 Juli.
Baca Juga: IEA Pangkas Proyeksi Pasokan Minyak Dunia, Turun 4,3 Juta Barel per Hari
Harga minyak juga melanjutkan penguatan setelah melonjak sekitar 5% pada Senin.
Dorian Carrell, Head of Multi-Asset Income di Schroders, mengatakan skenario dasar yang selama ini diperkirakan adalah penurunan eskalasi secara bertahap, tetapi berlangsung tidak mulus.
"Untuk waktu yang lama, skenario dasar kami adalah deeskalasi secara bertahap tetapi penuh gejolak," kata Carrell.
Menurut dia, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kemungkinan tidak akan kembali ke kapasitas penuh dalam waktu dekat. Kondisi tersebut dapat menjaga harga minyak tetap memiliki batas bawah sekaligus mempertahankan tekanan inflasi yang berasal dari energi.
"Kami tidak memperkirakan lalu lintas (melalui Selat Hormuz) akan kembali ke kapasitas penuh. Kami menilai kondisi tersebut akan memberikan batas bawah pada harga minyak dan mempertahankan tekanan inflasi yang didorong oleh energi di pasar dalam jangka pendek hingga menengah," ujarnya.
Bursa Global Bergerak Stabil
Di Eropa, indeks saham STOXX 600 bergerak relatif datar pada awal perdagangan. Indeks utama di Frankfurt, Paris, dan London juga berada di sekitar level penutupan sebelumnya.
Sementara itu, bursa Asia menguat 0,7%. Penguatan terutama dipimpin indeks Kospi Korea Selatan yang melonjak 3,7%.
Bursa Jepang dan Taiwan juga mencatat kenaikan hampir 1% seiring penguatan saham-saham perusahaan semikonduktor.
Di AS, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1%, sedangkan kontrak Nasdaq menguat 0,4%. Sentimen pasar mendapat dorongan dari kinerja positif perusahaan cloud berbasis kecerdasan buatan (AI), CoreWeave.
Baca Juga: Iran Segera Bergabung dengan Bank Pembangunan BRICS, Ini Tujuannya
Investor Menanti Data Inflasi AS
Fokus investor selanjutnya tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pada hari yang sama. Data ini akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Data CPI yang dirilis Rabu belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan harga energi terbaru. Meski demikian, angka tersebut tetap berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan.
Pasar uang saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berada di sekitar 50%.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, harga konsumen AS diperkirakan naik 0,1% pada Juli setelah turun 0,4% pada Juni. Secara tahunan, inflasi CPI diperkirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan sebelumnya.
Carrell mengatakan data inflasi yang relatif rendah dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga sebelum pemilihan umum paruh waktu AS.
"Proyeksi CPI diperkirakan akan cukup rendah hari ini, yang akan membuka jalan bagi keputusan untuk mempertahankan suku bunga sebelum pemilihan paruh waktu, dengan asumsi kondisi lainnya tetap sama," kata Carrell.
Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins juga mengatakan dirinya akan mendukung kenaikan suku bunga pada September apabila inflasi tetap tinggi, menurut laporan Financial Times.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Jepang Menguat
Selain AS, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter Jepang. Pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga lebih awal oleh Bank of Japan (BOJ), sehingga memberikan tekanan terhadap obligasi pemerintah Jepang dengan tenor pendek.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun naik menjadi 2,12%, level tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun mencapai 1,645%, atau level tertinggi dalam 31 tahun.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Investor kini memperkirakan peluang hampir 60% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan BOJ September.
Di pasar valuta asing, yen melemah tipis menjadi 159,35 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut masih berada di atas level terlemahnya setelah sempat menyentuh 155,20 per dolar AS pada pekan lalu di tengah dugaan intervensi berulang.
Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik kurang dari 0,1% menjadi 99,86. Sementara euro dan pound sterling bergerak relatif stabil.
Harga Emas Ikut Menguat
Ketidakpastian geopolitik dan perhatian investor terhadap inflasi turut menopang harga logam mulia.
Harga emas spot naik 1% menjadi US$4.409 per troy ounce. Sementara harga perak spot menguat 2% menjadi US$66,04 per ounce.
Kenaikan harga emas terjadi ketika investor menghadapi kombinasi risiko geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, serta potensi tekanan inflasi akibat tingginya harga energi.
Perkembangan konflik Iran dan gangguan terhadap jalur pelayaran menjadi perhatian utama pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap harga minyak dan inflasi global berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
