kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS


Rabu, 12 Agustus 2026 / 15:21 WIB
Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
ILUSTRASI. Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada Rabu (12/8/2026), ditopang kembali meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada Rabu (12/8/2026), ditopang kembali meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Pelaku pasar kini mencermati sejumlah data ekonomi AS, terutama inflasi, untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dolar terjadi ketika kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari gejolak energi akibat perang Iran kembali meningkat. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, dolar AS cenderung menjadi aset safe haven yang diburu investor.

Di pasar komoditas, harga minyak juga bergerak naik setelah Amerika Serikat dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran pada Selasa (11/8/2026).

Iran juga menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington menerima persyaratan yang diajukan Teheran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Baca Juga: Laba Foxconn Melonjak 35% Berkat Kuatnya Permintaan AI

Pasar Menanti Data Inflasi AS

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Ekonom memperkirakan inflasi kembali meningkat pada bulan lalu setelah sebelumnya melandai pada Juni, ketika harga minyak turun seiring munculnya harapan tercapainya kesepakatan damai terkait Iran.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu belum memberikan tekanan besar terhadap dolar. Pasar menilai inflasi masih menjadi faktor utama yang akan menentukan langkah suku bunga The Fed berikutnya.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee turut memperkuat pandangan tersebut. Pada Selasa, Goolsbee mengatakan dirinya lebih mengkhawatirkan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan dengan pelemahan pasar tenaga kerja.

"Pasar mengharapkan serangkaian data yang cukup moderat," kata Chris Turner, kepala global pasar di ING.

Menurut Turner, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Gandum Rusia, Operasional Dihentikan

"Data yang lemah seharusnya menggeser ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September, dari probabilitas 50% menjadi lebih condong ke keputusan untuk tidak mengubah suku bunga," ujarnya.

Fokus utama pasar pekan ini adalah data inflasi AS yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga The Fed. Laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan lalu serta konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh bulan lalu belum sepenuhnya menghilangkan keraguan pasar mengenai prospek kebijakan moneter.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, kontrak berjangka dana federal menunjukkan probabilitas sekitar 50% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan dua hari yang berakhir 16 September.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,05% menjadi 99,85.

Yen Tertekan, Pasar Antisipasi Perbedaan Kebijakan Suku Bunga

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan berkurangnya ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting bagi yen Jepang. Di sisi lain, kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada September dapat memperkuat sinyal bahwa bank sentral Jepang akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.

Harga pasar juga menunjukkan kecenderungan tersebut. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa BoJ akan menaikkan suku bunga pada bulan depan.

Yen melemah 0,05% terhadap dolar AS menjadi 159,38 yen per dolar. Mata uang Jepang tersebut bahkan menyentuh level terlemahnya dalam sebulan, meskipun sebelumnya otoritas AS dan Jepang melakukan intervensi bersama untuk memperkuat yen.

Baca Juga: Selat Hormuz Terancam Tetap Ditutup, Serangan Kapal Kembali Terjadi

"Rilis laporan CFTC terbaru pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa intervensi tersebut memicu penutupan besar-besaran posisi short yen spekulatif," kata Lee Hardman, ekonom senior valuta asing di MUFG.

"Jika tidak ada perubahan pada fundamental, para spekulan akan terdorong untuk kembali membangun posisi short yen ketika kondisi pasar keuangan yang stabil tetap mendukung strategi carry trade," tambahnya.

Sementara itu, euro melemah 0,1% menjadi US$1,1534. Poundsterling Inggris relatif tidak berubah di level US$1,3505.

Dolar Australia turun 0,1% menjadi US$0,7056. Sementara itu, dolar Selandia Baru melemah 0,25% menjadi US$0,5867.

Pergerakan dolar Selandia Baru turut dipengaruhi perkembangan politik domestik. Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon pada Rabu mengatakan dirinya memenangkan pemungutan suara kepercayaan dari anggota parlemen partai berkuasa, setelah sebelumnya muncul spekulasi mengenai kepemimpinannya menjelang pemilihan umum yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.

Dengan demikian, pasar valuta asing masih akan sangat dipengaruhi kombinasi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga energi, serta data inflasi AS. Ketiga faktor tersebut berpotensi menentukan arah dolar AS sekaligus memperkuat atau mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.




TERBARU

[X]
×