kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.894   18,00   0,10%
  • IDX 6.332   64,59   1,03%
  • KOMPAS100 829   6,73   0,82%
  • LQ45 629   3,17   0,51%
  • ISSI 219   2,60   1,20%
  • IDX30 352   0,58   0,16%
  • IDXHIDIV20 427   -1,61   -0,38%
  • IDX80 95   0,72   0,77%
  • IDXV30 118   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 111   -0,21   -0,19%

Selat Hormuz Terancam Tetap Ditutup, Serangan Kapal Kembali Terjadi


Rabu, 12 Agustus 2026 / 14:45 WIB
Selat Hormuz Terancam Tetap Ditutup, Serangan Kapal Kembali Terjadi
ILUSTRASI. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal pada Selasa (11/8/2026).

Perkembangan tersebut terjadi ketika peluang berakhirnya perang Iran semakin suram dan Teheran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali jika Washington tidak memenuhi sejumlah persyaratan.

Serangan terjadi di dua jalur pelayaran strategis, yakni Teluk Oman yang menjadi akses menuju Selat Hormuz serta pintu masuk Laut Merah. Kedua jalur tersebut merupakan titik penting bagi perdagangan energi dunia, terutama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG).

Meningkatnya ketegangan turut memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Harga minyak dunia menguat, sementara bursa saham global melemah karena kekhawatiran perang akan berlangsung lebih lama.

Harga minyak mentah Brent naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,3% menjadi US$83,20 per barel.

Baca Juga: Indeks Kospi Reli: Ditutup Melonjak Lebih dari 3% Ditopang Saham Pembuat Chip

Di ujung selatan Laut Merah, empat awak kapal tewas dalam dugaan serangan Houthi terhadap sebuah kapal kargo berukuran kecil di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa.

Kementerian Transportasi Yaman menyebut kapal tersebut bernama Tihamah dan dimiliki perusahaan asal Mesir. Penjaga Pantai Yaman juga melaporkan dua penyelamat dari kelompok militer yang menentang Houthi turut tewas dalam insiden tersebut.

Korban jiwa di kapal Tihamah menjadi kematian pertama yang dilaporkan dalam serangan terhadap pelayaran oleh Houthi yang bersekutu dengan Iran sejak perang Iran dimulai.

Kantor berita Saba yang dikelola Houthi melaporkan kelompok tersebut menyerang kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Selat Bab el-Mandeb. Namun, Houthi tidak menyebutkan nama kapal tersebut dan belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Arab Saudi.

AS Klaim Lumpuhkan Kapal di Teluk Oman

Di lokasi berbeda, militer AS mengatakan sebuah helikopter Angkatan Laut AS MH-60 menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi kapal kargo berbendera Panama.

Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyatakan kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang untuk berhenti karena dianggap melanggar blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sejumlah sumber maritim mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut terkena serangan di lepas pantai Pakistan ketika sedang berlayar menuju Teluk Oman.

Serangkaian insiden tersebut memperlihatkan risiko terhadap jalur pelayaran global masih tinggi, terutama ketika belum terdapat kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik Iran.

Iran Tegaskan Selat Hormuz Belum Akan Dibuka

Ketegangan juga meningkat setelah Iran dan AS mengeluarkan pernyataan yang semakin keras dalam dua hari terakhir.

Pejabat keamanan senior Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pada Selasa bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.

Baca Juga: Laba Foxconn Taiwan Melonjak 35% di Kuartal II-2026, Disokong Permintaan AI

Persyaratan tersebut mencakup pencairan aset Iran yang dibekukan serta penghentian konflik di berbagai wilayah, termasuk Lebanon dan Gaza.

Pernyataan Rezaei muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump meminta Iran membayar kompensasi bagi orang-orang yang tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes selama 50 tahun terakhir.

Sepanjang konflik berlangsung, Trump beberapa kali mengeluarkan ancaman eskalasi sekaligus menyatakan kesepakatan damai sudah semakin dekat.

Dalam wawancara yang dirilis pada Senin malam, Trump mengatakan ketidakpastian terkait perang dapat berlangsung cukup lama. Ia menyebut AS dapat membiarkan perekonomian Iran melemah atau melakukan serangan yang jauh lebih keras.

"Saya agak sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik," kata Trump kepada Real America's Voice.

Saat berbicara kepada wartawan setelah kunjungannya ke Ohio pada Selasa, Trump mengatakan kondisi Iran berjalan dengan baik dari perspektif AS.

"Iran baik-baik saja, benar-benar baik-baik saja," ujar Trump.

"Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz ... Tidak ada pihak lain, hanya kami," katanya.

Trump juga memperingatkan bahwa Iran dapat menghadapi konsekuensi lebih keras jika melakukan tindakan tertentu.

"Pada suatu titik, mungkin mereka akan melakukan sesuatu dan kemudian mereka akan dihancurkan," kata Trump mengenai Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial Pasokan Energi Dunia

Pernyataan Rezaei menjadi salah satu indikasi terkuat bahwa Selat Hormuz kemungkinan tidak akan segera dibuka untuk lalu lintas kapal komersial.

Menurut laporan Reuters, sebelum perang berlangsung, jalur perairan tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima arus minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

"Asalkan Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima persyaratan Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka," kata Rezaei, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.

Hingga kini belum ada tanggapan langsung dari pemerintah AS mengenai pernyataan terbaru Iran tersebut.

Risiko gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar bagi pasar energi global. Penutupan atau pembatasan lalu lintas di jalur tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak dan LNG serta meningkatkan biaya pengiriman dan premi risiko energi.

Baca Juga: Sovereign Wealth Fund (SWF) Norwegia Cetak Rekor Laba 1,75 Triliun Krona

Iran Siapkan Operasi di Wilayah Musuh

Perang Iran juga telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap aset dan infrastruktur AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Ancaman eskalasi kembali muncul setelah Mohammad Reza Naqdi, penasihat komandan Garda Revolusi Iran, mengatakan bahwa pasukannya tengah mengembangkan kemampuan untuk melakukan operasi di wilayah musuh.

"Kami harus mampu memindahkan operasi ke wilayah musuh kapan pun diperlukan dan diperintahkan," kata Naqdi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.

"Ini merupakan karakteristik doktrin ofensif yang harus dicapai," lanjutnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran masih menghadapi risiko perluasan. Di tengah belum tercapainya kesepakatan antara Teheran dan Washington, gangguan terhadap jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb berpotensi terus menjadi perhatian utama pasar minyak dunia.




TERBARU

[X]
×