kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

Eropa dan Asia Berebut LNG, Perang Iran Bikin Pasar Gas Global Makin Ketat


Rabu, 23 September 2026 / 19:07 WIB
Eropa dan Asia Berebut LNG, Perang Iran Bikin Pasar Gas Global Makin Ketat
ILUSTRASI. LNG - Amerika Serikat (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pasar gas alam global mulai memperhitungkan potensi pasokan yang ketat hingga melewati musim dingin akibat perang Iran yang mengganggu ekspor liquefied natural gas (LNG) dari kawasan Teluk.

Sekretaris Jenderal International Gas Union (IGU) Menelaos Ydreos mengatakan, gangguan ekspor LNG dari kawasan tersebut turut mempersulit upaya Eropa mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin.

"Pasar saat ini menunjukkan bahwa mereka melihat konflik akan berlangsung lebih lama," ujar Ydreos kepada Reuters dikutip pada Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Aktivitas Swasta India Menguat, PMI Manufaktur Capai Level Tertinggi Tujuh Bulan

Menurut dia, kurva harga kontrak berjangka gas menunjukkan pasar memperkirakan kondisi pasokan ketat masih berlanjut hingga tahun depan.

Kondisi ini berbeda dibandingkan beberapa bulan lalu, ketika pelaku pasar memperkirakan harga gas akan mulai turun setelah musim dingin.

Persaingan memperebutkan pasokan LNG juga semakin meningkat. Eropa kini harus bersaing dengan Asia untuk mendapatkan kargo LNG, sementara negara-negara Eropa berupaya meningkatkan kembali tingkat penyimpanan gas sebelum memasuki musim dingin.

"Eropa mulai mengalahkan Asia dalam penawaran karena mereka perlu mengisi kembali tingkat penyimpanan," kata Ydreos.

Ketidakpastian terutama berasal dari dampak konflik terhadap ekspor Qatar, salah satu pemasok LNG terbesar dunia.

Gangguan pasokan dari kawasan Teluk berpotensi memperketat pasar global karena Eropa dan Asia sama-sama bergantung pada LNG untuk memenuhi kebutuhan energi.

Baca Juga: Lolos Liga Champions, Manchester United Bidik Pendapatan hingga £760 Juta

Ydreos mengatakan, kondisi saat ini berbeda dengan gejolak energi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Jika krisis sebelumnya terutama berdampak pada Eropa, gangguan pasokan LNG saat ini berpotensi memengaruhi sejumlah kawasan secara bersamaan.

Di sisi permintaan, krisis energi telah mendorong sebagian konsumen mengurangi penggunaan gas dalam jangka pendek. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah permintaan akan kembali meningkat setelah konflik mereda atau justru terjadi perubahan kebijakan energi dalam jangka panjang.

Tekanan terhadap pasar gas Eropa juga datang dari rencana Uni Eropa melarang impor LNG Rusia mulai Januari.

Kargo LNG Rusia yang saat ini dikirim ke Eropa kemungkinan akan mencari pembeli alternatif, meski berpotensi dijual dengan harga lebih rendah.

Namun, jika arus LNG Rusia terganggu, tekanan terhadap pasar akan semakin besar di tengah kekhawatiran mengenai pasokan dari Timur Tengah.

Baca Juga: Tegang! Trump Merencanakan Acara Megah untuk Pertemuan dengan Xi Jinping

Di tengah kondisi tersebut, pembuat kebijakan Eropa juga menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan target pengurangan emisi dengan kebutuhan menjaga keamanan dan keterjangkauan energi.

Ydreos menilai, regulasi energi tetap diperlukan, tetapi penerapannya harus realistis dan dapat dipenuhi industri.

Menurut dia, regulasi yang terlalu sulit dipatuhi berisiko mendorong industri mengalihkan produk dan investasinya ke kawasan lain.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×