kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Perang Iran Ubah Peta Perdagangan Global, Negara Teluk Genjot Investasi Infrastruktur


Jumat, 28 Agustus 2026 / 16:28 WIB
Perang Iran Ubah Peta Perdagangan Global, Negara Teluk Genjot Investasi Infrastruktur
ILUSTRASI. Perang Iran memaksa negara-negara Teluk melakukan perubahan besar terhadap strategi investasi mereka.? (DOK/pbmc.ir)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Perang Iran memaksa negara-negara Teluk melakukan perubahan besar terhadap strategi investasi mereka.

Negara-negara kaya minyak di kawasan tersebut mulai menggelontorkan modal dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur, mulai dari jaringan pipa energi hingga pelabuhan, guna mengantisipasi dampak berkepanjangan dari konflik.

Perubahan strategi ini muncul setelah perang menyoroti ketergantungan besar negara-negara Teluk terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Sebelum konflik berlangsung, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar 20% aliran minyak global. Namun, jalur tersebut selama puluhan tahun juga menghadapi ancaman Iran untuk melakukan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran.

Baca Juga: Kenaikan Harga Barang Melesat, Daya Beli Warga Prancis di Kuartal Dua Merosot

Dalam enam bulan terakhir, Selat Hormuz praktis mengalami pemblokiran dalam sebagian besar periode tersebut. Kondisi ini mendorong munculnya komitmen investasi senilai miliaran dolar ketika negara-negara eksportir energi Teluk berupaya membuat perekonomian mereka lebih tahan terhadap risiko gangguan perdagangan.

Negara Teluk Cari Jalur Alternatif

Pengalihan arus perdagangan kini mulai dilakukan melalui pelabuhan Arab Saudi di kawasan Laut Merah serta pelabuhan-pelabuhan di bagian timur Uni Emirat Arab (UEA). Namun, kapasitas jalur tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.

Seorang sumber industri mengatakan, pemerintah negara-negara Teluk tengah mencari solusi permanen dan terintegrasi agar aktivitas perdagangan dapat dilakukan tanpa bergantung pada Selat Hormuz.

"Pemerintah negara-negara Teluk sedang mencari cara untuk menciptakan solusi permanen dan terintegrasi untuk menghindari penggunaan Selat Hormuz," ujar sumber tersebut kepada Reuters. Ia meminta identitasnya tidak disebutkan karena sensitifnya isu tersebut.

Pelabuhan Jadi Prioritas Investasi

Dengan kekayaan minyak yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun, sebagian besar pemerintah negara-negara Teluk memiliki kapasitas untuk membiayai pembangunan infrastruktur tersebut.

Namun, sejumlah negara kemungkinan tetap akan mengandalkan pendanaan eksternal seiring ambisi mereka meningkatkan investasi asing langsung (FDI). Pada saat yang sama, dana infrastruktur besar dan investor internasional lainnya mulai menunjukkan ketertarikan terhadap aset-aset di kawasan tersebut.

Nilai investasi yang dibutuhkan bahkan berpotensi mencapai ratusan miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang.

Dana kekayaan negara atau sovereign wealth funds (SWF) negara-negara Teluk, yang termasuk terbesar di dunia, telah mulai mengambil peran untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut.

Pelabuhan kini menjadi salah satu prioritas utama pemerintah negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

"Jika dua tahun lalu olahraga adalah hal yang paling ramai dibicarakan, saya pikir untuk sementara waktu, satu atau dua tahun ke depan, mereka akan mengatakan pelabuhan, pelabuhan, pelabuhan," ujar sumber industri kedua yang menggambarkan perubahan prioritas investasi Arab Saudi.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Terkoreksi 1,79% Jumat (28/8), Catat Penurunan Mingguan Kedua

Arab Saudi dan UEA Perkuat Infrastruktur Pelabuhan

Dana kekayaan negara Abu Dhabi, L'IMAD, pada pekan lalu menyatakan rencana untuk mengambil alih sisa saham AD Ports. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan peninjauan kembali strategi perusahaan.

AD Ports mengoperasikan pelabuhan di UEA dan berbagai negara lainnya. Namun, volume peti kemas, kargo curah, serta kargo umum di UEA turun sekitar dua pertiga pada kuartal II dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu tantangan paling signifikan dalam sejarah 20 tahun operasionalnya.

Operator pelabuhan global DP World yang berbasis di Dubai juga mencatat penurunan bisnis pada paruh pertama tahun ini.

DP World berencana mengembangkan dua terminal peti kemas di Fujairah. Wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi strategis UEA karena pemerintah sedang membangun jaringan pipa minyak baru yang akan menggandakan kapasitas pengiriman minyak mentah menuju Fujairah ketika mulai beroperasi tahun depan.

Selain terminal pelabuhan, DP World juga mengembangkan fasilitas depo peti kemas di kawasan pedalaman UEA.

Zin Bekkali, CEO perusahaan manajemen investasi asal Inggris Silk Invest, mengatakan negara-negara Teluk memiliki modal yang cukup untuk membiayai sebagian besar atau bahkan seluruh percepatan investasi infrastruktur tersebut secara internal.

"Jadi, infrastruktur jelas merupakan salah satu area yang menurut kami akan mendapatkan manfaat," kata Bekkali.

Arab Saudi Alihkan Jalur Minyak dari Hormuz

Arab Saudi juga mempercepat sejumlah rencana bernilai miliaran dolar untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Salah satunya adalah peningkatan kapasitas jaringan pipa minyak mentah menuju pesisir Laut Merah di wilayah barat Arab Saudi.

Rencana tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi negara-negara tetangga karena memungkinkan lebih banyak minyak diangkut tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Langkah ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya mendorong negara-negara Teluk memperkuat pertahanan terhadap gangguan perdagangan, tetapi juga mempercepat diversifikasi jalur energi dan logistik.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat 0,6% Jumat (28/8), Saham Teknologi Terdongkrak Kinerja Nvidia

Dampak Ekonomi Perang Iran Meluas

Dampak perang Iran terhadap negara-negara Teluk tidak hanya dirasakan melalui gangguan pelayaran.

Serangan terhadap fasilitas produksi di kawasan tersebut telah memengaruhi kilang minyak, pabrik aluminium, pusat data, dan berbagai fasilitas ekonomi lainnya.

Sementara itu, lalu lintas penerbangan masih berada di bawah level sebelum perang. Kondisi tersebut turut menekan sektor pariwisata serta aktivitas bisnis yang bergantung pada konektivitas regional.

Konflik juga mengguncang reputasi sejumlah pusat ekonomi Teluk yang selama ini dikenal sebagai kawasan relatif aman bagi investasi dan aktivitas bisnis.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, ekonomi Qatar dan Kuwait diperkirakan menyusut sedikit lebih dari 8% pada tahun ini.

Sebaliknya, ekonomi Arab Saudi diperkirakan masih tumbuh 1,4%, meskipun jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,5% pada 2025.

Qatar Hadapi Gangguan Ekspor LNG

Qatar menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap gangguan Selat Hormuz.

Sebelum perang Iran, Qatar merupakan salah satu eksportir gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) terbesar di dunia.

Namun, negara tersebut sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor LNG. Kerusakan terhadap fasilitas energi juga menyebabkan kekurangan produksi dalam jumlah besar.

Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp tengah berdiskusi dengan Arab Saudi dan UEA untuk memperluas jaringan pipa sehingga dapat menampung pengiriman minyak Kuwait.

Irak juga berupaya memperbesar ekspor minyak melalui pelabuhan Ceyhan di Turki. Selain itu, Irak menargetkan dimulainya ekspor minyak melalui pelabuhan Baniyas di Suriah dan Aqaba di Yordania yang membutuhkan pembangunan jaringan pipa baru.

Negara Teluk Bangun Jalur Perdagangan Alternatif

Meskipun terdapat sedikit pembukaan Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas perdagangan masih terbatas.

Belum terdapat kepastian mengenai kapan konflik Iran dan Amerika Serikat akan berakhir, meskipun intensitas permusuhan mulai mereda.

Pengendalian Selat Hormuz menjadi salah satu titik perselisihan paling sulit dalam konflik tersebut. Kondisi ini mendorong negara-negara di kawasan untuk bekerja sama mencari jalur perdagangan dan transportasi alternatif guna mengurangi ketergantungan terhadap selat tersebut.

Baca Juga: Akibat Serangan Panas, Ekonomi Prancis Stagnan pada Kuartal II-2026

Turki dan Arab Saudi juga berencana membangun jalur kereta api yang menghubungkan kedua negara melalui Yordania dan Suriah dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

Menteri Transportasi Turki pada Juni mengatakan negara-negara Teluk lainnya akan bergabung dalam proyek tersebut.

Krisis Hormuz Jadi Pelajaran Strategis

Afaq Hussain, mantan senior fellow pada Middle East Initiative di Atlantic Council, mengatakan krisis Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bagi negara-negara yang selama ini bergantung pada jalur perdagangan tertentu.

"Krisis Selat Hormuz baru-baru ini telah memberi kita pelajaran yang sangat penting bahwa kerentanan ini nyata... dan dapat terjadi kapan saja di titik sempit mana pun," kata Hussain.

Menurut dia, negara-negara perlu memiliki jalur perdagangan dan transportasi cadangan meskipun pada tahap awal jalur tersebut mungkin terlihat tidak ekonomis.

Dengan demikian, perang Iran berpotensi meninggalkan perubahan jangka panjang terhadap peta perdagangan dan investasi di kawasan Teluk. Infrastruktur pelabuhan, jaringan pipa, jalur kereta api, serta koridor logistik alternatif diperkirakan menjadi semakin penting sebagai strategi untuk mengurangi risiko terhadap gangguan di Selat Hormuz.

Perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa keamanan jalur perdagangan kini tidak lagi sekadar persoalan logistik, tetapi telah menjadi bagian penting dari strategi ekonomi dan investasi negara-negara Teluk.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×