CIA: Potensi Invasi China ke Taiwan Semakin Besar, Mereka Belajar dari Rusia

Kamis, 21 Juli 2022 | 11:47 WIB Sumber: Channel News Asia
CIA: Potensi Invasi China ke Taiwan Semakin Besar, Mereka Belajar dari Rusia

ILUSTRASI. Bendera nasional China dan Taiwan ditampilkan di samping pesawat militer dalam ilustrasi yang diambil 9 April 2021.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Badan Intelijen Pusat (CIA) menilai bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah mempengaruhi pandangan China terhadap Taiwan. Badan intelijen AS tersebut menyebut potensi invasi China ke Taiwan kini semakin besar.

Direktur CIA William Burns, pada hari Rabu (20/7), mengatakan bahwa perang di Ukraina telah mengubah pola pikir China soal invasi ke Taiwan. Dari "apakah harus dilakukan", menjadi "bagaimana untuk melakukannya".

"Risiko itu menjadi lebih tinggi, menurut kami, semakin jauh ke dalam dekade ini. Ini mungkin kurang mempengaruhi apakah pemimpin China mungkin memilih beberapa tahun ke depan untuk menggunakan kekuatan untuk mengendalikan Taiwan, tetapi bagaimana dan kapan mereka akan melakukannya," ungkap Burns, seperti dikutip Channel News Asia.

Baca Juga: Terima Dukungan Penuh dari Iran dalam Perang di Ukraina, Ini yang Akan Didapat Rusia

Burns menambahkan bahwa China telah belajar banyak dari Rusia. Salah satunya adalah bagaimana Rusia bisa gagal menguasai Ukraina setelah lima bulan.

Menurut pantauan CIA, China diyakini mulai sadar bahwa negara tidak bisa mencapai kemenangan yang cepat dan menentukan hanya dengan kekuatan militer yang luar biasa.

"China juga kemungkinan telah belajar bahwa mereka harus mengendalikan ruang informasi dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menopang ekonomi dari potensi sanksi," lanjut Burns.

Baca Juga: China Meminta AS & Inggris Diperiksa Atas Kejahatan Perang dan Pelanggaran HAM

Invasi China ke Taiwan telah lama dikhawatirkan akan terjadi. China masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meski memiliki pemerintahan sendiri.

China pun bertekad untuk menyatukan kembali Taiwan ke dalam pemerintahannya dengan segala cara, termasuk dengan kekerasan atau militer.

Taiwan didirikan oleh nasionalis China yang yang kalah dalam perang saudara di daratan utama pada 1949. Pulau kecil ini cukup berhasil berkembang menjadi negara demokrasi dengan kekuatan teknologi terdepan.

Dalam pembahasan lain, direktur CIA ini juga menegaskan bahwa AS yakin bahwa saat ini China memang tidak memberikan dukungan militer langsung ke Rusia. Namun, China disebut sedang mempersiapkan pembelian sumber energi dari Rusia untuk meringankan beban mitra tersebut.

Burns mengatakan bahwa pembelian ini akan dilakukan China dengan sangat hati-hati agar tidak ikut terkena sanksi Barat.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru