China Meminta AS & Inggris Diperiksa Atas Kejahatan Perang dan Pelanggaran HAM

Selasa, 19 Juli 2022 | 09:30 WIB Sumber: Xinhua
China Meminta AS & Inggris Diperiksa Atas Kejahatan Perang dan Pelanggaran HAM

ILUSTRASI. Pasukan militer AS yang baru kembali dari wilayah utara Suriah, 21 Oktober 2019.

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kementerian Luar Negeri China pada hari Senin (18/7) mendesak agar masyarakat internasional melakukan penyelidikan mendalam terhadap AS dan Inggris atas indikasi kejahatan perang dan pelanggaran HAM.

Juru bicara kementerian, Wang Wenbin, menyampaikan desakan ini setelah menerima laporan bahwa anggota British Special Air Service (SAS) yang ditempatkan di Afghanistan berulang kali membunuh tawanan dan warga sipil tak bersenjata.

Dalam pengarahannya, Wang bahkan menyebut para tentara Inggris telah bersaing satu sama lain untuk mendapatkan jumlah pembunuhan terbanyak.

Baca Juga: Amerika Serikat Temukan Bukti Baru Terkait Kejahatan Perang Rusia di Ukraina

"Pelanggaran hak asasi manusia yang kejam yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya telah menantang hati nurani manusia, dan ini bukanlah kasus yang tertutup. Ini adalah pengulangan yang terus-menerus, sistemik dan lazim," ungkap Wang, seperti dikutip Xinhua.

Lebih lanjut, Wang melihat AS dan Inggris justru mencoba segala cara untuk menangkis kesalahan tersebut alih-alih merenungkan kekejaman mereka.

Wang merasa harus ada penyelidikan internasional yang menyeluruh terhadap kejahatan perang dan pelanggaran HAM yang dilakukan AS dan Inggris.

Mengutip laporan media, Wang mengatakan bahwa pada periode 2003 hingga 2008 ribuan warga sipil Irak dilecehkan oleh tentara Inggris dengan cara seperti penahanan, pemukulan, penghinaan, serangan seksual dan bahkan pembunuhan.

Baca Juga: Sekjen PBB Mengimbau Dunia untuk Tidak Melupakan Konflik di Suriah

Sementara itu, tentara AS selama hampir 20 tahun terakhir juga telah meluncurkan lebih dari 90.000 serangan udara ke sejumlah negara Timur Tengah, seperti Afghanistan, Irak dan Suriah, yang menewaskan lebih dari 48.000 warga sipil.

Wang pun menyayangkan sikap kedua negara yang selama ini seolah sangat peduli dengan HAM.

"Mereka yang paling vokal membela hak asasi manusia ternyata adalah pembunuh paling mematikan terhadap warga sipil tak berdosa. mereka yang paling gigih menyerang kondisi hak asasi manusia negara lain adalah mereka yang harus diperiksa terkait hak asasi manusia," pungkas Wang.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru