Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Korea Selatan akan melakukan pembelian kembali obligasi senilai 5 triliun won (sekitar US$3,32 miliar) dan menaikkan batas harga bahan bakar mulai Jumat mendatang, sebagai upaya meredam dampak konflik Iran yang memicu gejolak pasar global.
Pembelian kembali obligasi ini akan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing 2,5 triliun won pada 27 Maret dan 2,5 triliun won pada 1 April.
Langkah ini bertujuan menambah likuiditas di pasar obligasi domestik sekaligus menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tiga tahun yang menembus level tertinggi sejak pertengahan 2024.
Baca Juga: Lonjakan Harga BBM Dorong Penjualan Mobil Listrik Bekas di Eropa
Bersamaan dengan itu, pemerintah menaikkan batas harga bahan bakar dan memperluas pemangkasan pajak BBM untuk mencegah efek lonjakan harga minyak internasional diteruskan ke konsumen.
Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil obligasi tiga tahun langsung mengalami rebound.
Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol menyebut, kapasitas operasi pembangkit listrik tenaga nuklir akan ditingkatkan di atas 80%, dan batas musiman untuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara akan dicabut.
“Seiring perang di Timur Tengah yang dimulai akhir Februari memasuki minggu keempat, dampak ekonomi seperti kenaikan harga, gangguan pasokan, dan volatilitas pasar finansial semakin terlihat,” kata Koo Kamis (26/3/2026).
Ia menegaskan pemerintah siap menggunakan seluruh sumber daya untuk menangani situasi yang serius dan dapat mengambil tindakan tambahan jika diperlukan.
Baca Juga: Harga Emas Drop 1,2%, Pasar Timbang Prospek Gencatan Senjata di Timur Tengah
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menggelar rapat tingkat tinggi untuk membahas respons terhadap “situasi yang tidak dapat diprediksi” ini, mengingat kompleksitas rantai pasok global yang membuat solusi sulit dirumuskan.
Korea Selatan menghadapi kerentanan tinggi karena sangat bergantung pada impor energi yang melewati Selat Hormuz, yang sejak awal Maret praktis tertutup.
Untuk meredam gejolak harga energi, pemerintah menaikkan batas harga bahan bakar dan memperluas pemangkasan pajak BBM: menjadi 15% dari sebelumnya 7% untuk bensin, dan 25% dari sebelumnya 10% untuk solar.
Selain itu, kontrol ekspor produk nafta akan diberlakukan mulai tengah malam Jumat untuk mengatasi gangguan pasokan bahan baku industri petrokimia besar Korea Selatan, setengahnya diimpor melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Bursa Saham China Merosot, Ketidakpastian De-eskalasi Perang Iran Bebani Pasar
Pemerintah juga berencana memperketat pengawasan arus modal asing menjelang masuknya obligasi Korea Selatan ke dalam indeks obligasi pemerintah global bulan depan.
Langkah-langkah ini merupakan respons terbaru ekonomi terbesar keempat di Asia untuk menahan dampak perang AS-Israel melawan Iran, yang telah memicu tekanan jual obligasi dan meningkatkan risiko inflasi energi serta volatilitas pasar finansial.













