kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.057   23,00   0,13%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Demo Meluas di 5 Negara Eropa, dari Kerusuhan Prancis hingga Krisis Perumahan Parah


Senin, 19 Oktober 2026 / 03:50 WIB
Demo Meluas di 5 Negara Eropa, dari Kerusuhan Prancis hingga Krisis Perumahan Parah
ILUSTRASI. Demo Meluas di 5 Negara Eropa, dari Kerusuhan Prancis hingga Krisis Perumahan Parah


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Paris. Gelombang demonstrasi melanda lima negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026). Aksi unjuk rasa yang dipicu persoalan biaya hidup, krisis perumahan, serta buruknya layanan publik dan pendidikan tersebut berlangsung di Prancis, Albania, Italia, Portugal, dan Belgia.

Di sejumlah negara, demonstrasi berujung bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Kerusuhan paling menonjol terjadi di Prancis dan Albania, dengan laporan pembakaran bangunan, perusakan fasilitas publik, hingga penangkapan demonstran.

Mengutip BBC, sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di Prancis. Pemerintah setempat melaporkan sedikitnya 1.200 orang ditangkap, sementara sekitar 150 polisi terluka dalam kerusuhan.

Di Albania, demonstrasi antipemerintah memasuki hari kelima di ibu kota Tirana. Massa mendesak Perdana Menteri Edi Rama mundur di tengah tuduhan korupsi, pengangguran, dan persoalan pendidikan.

Sementara itu, demonstrasi di Italia menyoroti tingginya biaya hidup. Di Portugal, puluhan ribu orang memprotes mahalnya harga rumah dan kebutuhan sehari-hari. Adapun di Belgia, kelompok mahasiswa turun ke jalan menentang kenaikan biaya pendidikan.

Baca Juga: Demo Biaya Hidup di Prancis Berujung Rusuh, 50 Gerai Carrefour Rusak

Demo Prancis berujung penjarahan dan pembakaran

Demonstrasi di Prancis bermula dari protes pelajar terhadap kekurangan tenaga pengajar dan buruknya fasilitas sekolah. Aksi tersebut kemudian meluas setelah mendapat dukungan kelompok pekerja dan masyarakat yang mengeluhkan kenaikan biaya hidup serta ketimpangan sosial.

Pada Sabtu siang, demonstrasi di Paris sebagian besar berlangsung damai. Namun, situasi memburuk menjelang malam ketika sejumlah kelompok membakar kendaraan dan benda-benda di jalan, termasuk di kawasan Place de la République.

Sejumlah toko dijarah dan sedikitnya satu restoran terbakar. Polisi antihuru-hara mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Sejumlah petugas juga dilaporkan memukul demonstran menggunakan tongkat.

Kerusuhan turut terjadi di berbagai kota. Di Limoges, kebakaran besar melanda balai kota hingga menyebabkan sebagian atap bangunan runtuh. Sementara itu, kantor pariwisata Lyon dibakar.

Wali Kota Lyon Gregory Doucet menyebut insiden tersebut sebagai tragedi karena bangunan yang terbakar merupakan salah satu bangunan ikonik kota.

Di Saint-Étienne, Wali Kota Régis Juanico melaporkan seorang pemuda mengalami cedera serius hingga kehilangan tangan akibat ledakan benda kecil yang diduga merupakan bahan peledak.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut sejumlah aksi kekerasan dilakukan secara terarah oleh kelompok bertopeng di beberapa lokasi, termasuk Paris, Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers. Kerusakan bangunan juga dilaporkan di Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence.

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyatakan sekitar 150 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut. Pemerintah juga melaporkan sedikitnya 1.200 orang ditangkap.

Pemerintah sebelumnya telah berupaya meredakan protes dengan menjanjikan tambahan 3.000 guru pengganti. Menteri Pendidikan Édouard Geffray menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara televisi pada 8 Oktober 2026.

Namun, kebijakan itu belum menghentikan demonstrasi. Gerakan yang awalnya berfokus pada persoalan pendidikan berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap kondisi ekonomi dan layanan publik.

Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari kelompok yang terinspirasi gerakan rompi kuning atau gilets jaunes, yang muncul pada 2018 untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan ketidakadilan sosial.

Baca Juga: Indeks Wall Street Anjlok di Akhir Pekan, Pasar Khawatir Prospek AI dan Harga Minyak

Albania dilanda bentrokan antipemerintah

Di Albania, demonstrasi antipemerintah memasuki hari kelima dengan tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.

Mengutip News18, massa melemparkan batu, bom bensin, bom molotov, suar, dan kembang api ke arah polisi. Aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan pentungan. Menurut laporan AFP, polisi juga menggunakan peluru karet dalam rangkaian demonstrasi tersebut.

Kerusuhan menyebabkan sejumlah kendaraan dan bangunan publik terbakar atau mengalami kerusakan. Fasilitas yang terdampak antara lain Mahkamah Agung, bank, dan kantor pos.

Kementerian Kesehatan Albania melaporkan 35 orang terluka pada Sabtu, terdiri dari 18 polisi dan 17 demonstran.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Albania Skender Hita menyatakan 167 orang telah ditangkap selama rangkaian demonstrasi. Proses hukum juga dimulai terhadap 388 orang, sedangkan 132 polisi dilaporkan terluka selama lima hari kerusuhan.

Para demonstran menuntut perubahan di tengah tuduhan korupsi pemerintah, pengangguran, dan buruknya kualitas pendidikan.

Rama, yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 2013, menolak mengundurkan diri. Ia menuduh lawan politik konservatif memicu bentrokan dan menegaskan bahwa hak masyarakat untuk berdemonstrasi tetap dilindungi, tetapi kekerasan tidak boleh mengancam masa depan negara.

Aksi protes juga meluas ke kota pesisir Durres. Media lokal melaporkan demonstran memecahkan jendela kantor pos dan memblokir jalan menggunakan barikade yang dibakar.

Tonton: Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Zelenskiy Murka!

Italia, Portugal, dan Belgia ikut dilanda demonstrasi

Gelombang protes juga berlangsung di Italia, Portugal, dan Belgia, meskipun tuntutan yang disuarakan di masing-masing negara berbeda.

Mengutip Reuters, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran di alun-alun dekat katedral utama Milan. Di Bologna, aparat mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa. Sebanyak tujuh orang ditangkap dalam aksi di kota tersebut.

Demonstrasi di Italia terutama menyoroti tingginya biaya hidup yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Di Portugal, puluhan ribu orang berunjuk rasa di Lisbon untuk menuntut solusi atas mahalnya perumahan dan kebutuhan hidup lainnya.

Reuters melaporkan harga rumah di Portugal telah meningkat dua kali lipat sejak 2017. Kenaikan tersebut memperburuk keterjangkauan hunian dan menjadi salah satu persoalan utama yang mendorong masyarakat turun ke jalan.

Sementara itu, di Brussel, Belgia, beberapa ratus orang, sebagian besar anak muda, menggelar demonstrasi menentang kenaikan biaya pendidikan.

Sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi. Kelompok mahasiswa menyatakan mereka menolak kebijakan dan reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau.

Menurut Reuters, sebagian aksi di Belgia terinspirasi oleh demonstrasi di Prancis.

Rangkaian demonstrasi di lima negara tersebut memperlihatkan beragam tekanan yang dihadapi masyarakat Eropa, mulai dari kenaikan biaya hidup dan sulitnya memperoleh hunian hingga ketidakpuasan terhadap layanan publik.

Meski dipicu persoalan yang berbeda, aksi-aksi tersebut sama-sama mencerminkan tuntutan masyarakat agar pemerintah memberikan solusi konkret terhadap persoalan ekonomi dan sosial yang semakin membebani kehidupan sehari-hari.









Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/10/18/190720870/benua-biru-membara-5-negara-dilanda-demo-antipemerintah-dan-kenaikan?page=all#page2. 

 

Pemerintah Jajaki Proyek Waste to Energy, Batam Jadi Kandidat




TERBARU

[X]
×