Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Negara-negara Asia harus mengingat kembali peristiwa selama krisis keuangan kawasan pada akhir tahun 1990-an dan mewaspadai terulangnya guncangan serupa.
Peringatan ini disampaikan Gubernur Bank Sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas) Eli Remolona pada Rabu (14/10/2026).
Remolona mengatakan, sebelum krisis keuangan Asia bermula pada tahun 1997, perekonomian kawasan mengalami arus masuk modal besar-besaran yang mendorong Bank Dunia menyebutnya sebagai keajaiban Asia Timur.
"Investasi mengalir deras ke Asia, dan kemudian terjadilah krisis karena hal itu sebenarnya bukanlah sebuah keajaiban. Saya rasa kita harus mengingat hal itu. Kita harus mewaspadai krisis semacam itu. Kita belum benar-benar melakukan banyak upaya untuk mencermati krisis semacam itu," ujar Remolona dalam sebuah panel IMF mengenai prospek Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia yang berlangsung di Bangkok, Thailand, yang merupakan pusat episentrum krisis keuangan Asia.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi dan Sinyal Suku Bunga The Fed
Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menanggapi pandangan tersebut dengan berargumen dalam diskusi panel bahwa IMF telah membuat kemajuan dalam menilai kerentanan keuangan dan potensi dampak penularan antar-perekonomian.
"Kami menanggapi (krisis) ini dengan serius dan telah menyusun kerangka kerja untuk membahas bagaimana negara-negara sebaiknya menangani arus modal yang fluktuatif—misalnya, kapan mereka perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing, dan sebagainya," ujar Srinivasan.
Srinivasan juga mengatakan, meskipun perekonomian ASEAN mampu bertahan cukup baik di tengah ketegangan perdagangan akibat kebijakan tarif AS, intensitas energi dapat menjadi salah satu risiko bagi prospek ekonomi kawasan, mengingat beberapa negara sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Atsushi Mimura, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, juga menyebutkan guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah serta kenaikan inflasi sebagai risiko jangka pendek bagi prospek kawasan tersebut.
"Tentu saja, kita semua tahu bahwa (dukungan fiskal) harus memenuhi prinsip 'Triple T'—yaitu tepat sasaran (targeted), disesuaikan dengan kebutuhan (tailored), dan bersifat sementara (temporary)," kata Mimura saat membahas perlunya disiplin dalam penyaluran anggaran untuk meredam dampak guncangan energi terhadap rumah tangga dan dunia usaha.
Mengingat banyaknya negara yang menghadapi tekanan persaingan dari Tiongkok, negara-negara ASEAN perlu fokus memperkuat investasi guna mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis dan energi, kata Mimura, seraya menambahkan bahwa Jepang siap mendukung upaya tersebut.
"Seluruh negara ASEAN harus terus meningkatkan investasi agar mampu mengimbangi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan inovasi. Pada saat yang sama, menurut saya negara-negara ASEAN memiliki posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok digitalisasi karena mereka merupakan penghasil mineral kritis," ujar Mimura.
Baca Juga: Trump Sebut Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Gas di Greenland Segera Dimulai














