Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Negara-negara Asia harus mengingat kembali peristiwa selama krisis keuangan kawasan pada akhir tahun 1990-an dan mewaspadai terulangnya guncangan serupa.
Eli Remolona, Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, mengungkapkan, sebelum krisis keuangan Asia bermula pada tahun 1997, perekonomian kawasan mengalami arus masuk modal besar-besaran.
"Ini yang membuat Bank Dunia menjulukinya sebagai keajaiban Asia Timur," kata Eli Remolona, Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, dalam sebuah diskusi panel IMF mengenai prospek Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
"Investasi mengalir deras ke Asia, dan kemudian krisis pun terjadi karena hal itu sebenarnya bukanlah sebuah keajaiban. Saya rasa kita perlu mengingat hal itu. Kita harus mewaspadai krisis semacam itu," ujarnya.
Baca Juga: Ekspor China Melonjak 36,3% pada September 2026, Surplus Dagang Dekati US$ 1 Triliun
"Kita belum benar-benar melakukan banyak upaya untuk mencermati krisis semacam itu."
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia yang berlangsung di Bangkok, Thailand.
Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menanggapi pandangan tersebut dengan menyatakan dalam diskusi panel bahwa IMF telah membuat kemajuan dalam menilai kerentanan keuangan serta potensi dampak penularan (spillover) antar-perekonomian.
"Kami menanggapi (krisis) ini dengan serius dan telah menyusun kerangka kerja untuk membahas bagaimana negara-negara sebaiknya menangani arus modal yang fluktuatif—misalnya, kapan mereka perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing, dan sebagainya," ujar Srinivasan.
Srinivasan juga mengatakan bahwa meskipun perekonomian ASEAN mampu bertahan cukup baik di tengah ketegangan perdagangan akibat kebijakan tarif AS, intensitas energi dapat menjadi salah satu risiko bagi prospek ekonomi kawasan, mengingat beberapa negara sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Atsushi Mimura, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, juga menyebutkan guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah serta kenaikan inflasi sebagai risiko jangka pendek bagi prospek kawasan tersebut.
Baca Juga: Nikkei Jepang Rebound 0,61% Rabu (14/10), Saham Chip Kembali Menguat
"Tentu saja, kita semua tahu bahwa (dukungan fiskal) harus memenuhi prinsip 'Triple T'—yaitu tepat sasaran (targeted), disesuaikan dengan kebutuhan (tailored), dan bersifat sementara (temporary)," kata Mimura saat membahas perlunya disiplin dalam penyaluran anggaran untuk meredam dampak guncangan energi terhadap rumah tangga dan dunia usaha.
Mengingat banyaknya negara yang menghadapi tekanan persaingan dari China, negara-negara ASEAN perlu fokus memperkuat investasi guna mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis dan energi, kata Mimura, seraya menambahkan bahwa Jepang siap mendukung upaya tersebut.
"Seluruh negara ASEAN harus terus meningkatkan investasi agar mampu mengimbangi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan inovasi," ujar Mimura di hadapan panel.
"Pada saat yang sama, menurut saya negara-negara ASEAN memiliki posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok digitalisasi karena mereka merupakan penghasil mineral kritis."
ASEAN yang beranggotakan 11 negara ini mencakup Brunei, Kamboja, Timor Leste, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.














