Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - VEVEY. Nestle memiliki sejumlah strategi untuk mengembangkan bisnis di bawah kepemimpinan CEO baru Laurent Freixe Nestle. Salah upayanya adalah dengan meningkatkan biaya iklan dan pemasaran.
CEO Nestle Laurent Freixe yang menjadi CEO pada September 2024 menggantikan Mark Schneider menghasilkan kinerja mengecewakan selama beberapa kuartal dengan pertumbuhan volume penjualan yang lebih lebih. Strategi yang dibawa oleh Freixe berbeda dengan Schneider. Di mana kala itu, Nestle memangkas anggaran pemasaran dan periklanannya serta mengurangi investasi inovasi selama pandemi COVID-19. Efeknya perusahaan ini kehilangan pangsa pasar karena konsumen beralih ke merek yang lebih murah atau lebih inovatif.
Perusahaan ini dalam acara hari pasar modal di Vevey, Swiss mengatakan jika akan menambah investasi periklanan dan pemasaran hingga 9% dari total penjualan pada tahun 2025 untuk mendukung pertumbuhan. Terakhir kali Nestle menghabiskan proporsi penjualannya untuk pemasaran pada tahun 2019.
Baca Juga: Pasar Kemasan Terus Tumbuh, Perusahaan Swiss Ini Tertarik Investasi di Indonesia
Di tahun 2023, biaya periklanan dan pemasaran hanya sebesar 7,7% dari penjualan, meningkat 80 basis poin dari tahun sebelumnya. "Ini jelas langkah pertama ke arah yang benar untuk memulihkan pertumbuhan penjualan. Penghematan biaya tambahan sangat berdampak signifikan," kata analis Vontobel Jean-Philippe Bertschy dikutip Reuters.
Selain itu, pemilik merek Nescafe, KitKat dan Milo pada Selasa (19/11) mengatakan, akan melakukan penghematan biaya setidaknya 2,5 miliar franc Swiss setara dengan US$ 2,83 miliar pada tahun 2027. Nestle juga ingin melakukan penghematan berkelanjutan sekitar 1,2 miliar franc Swiss.
Nestle memperkirakan pertumbuhan penjualan organik jangka menengah akan lebih dari 4% dalam keadaan normal dengan margin laba operasi sebesar 17%. Bandingkan dengan pertumbuhan penjualan organik yang diperkirakan sebesar 2% pada tahun ini.
Nestle pada Selasa juga mengatakan, akan mempertahankan portofolionya yang berjumlah lebih dari 2.000 merek dan tidak mengurangi. Freixe mengatakan ingin memperbaiki portofolio yang ada, bukannya menjual bisnis yang berkinerja buruk.
"Kami tidak mempunyai masalah portofolio," kata Chief Financial Officer Nestle Anna Manz. Ia bilang perusahaan bahkan ingin berinvestasi secara organik.
Nestle juga mengatakan pihaknya berencana untuk mengembangkan bisnis air dan minuman premiumnya menjadi unit global mulai 1 Januari 2025. "Ini jelas merupakan sebuah langkah untuk memisahkannya, mungkin ke ekuitas swasta semua opsi ada di meja," kata analis Vontobel, Bertschy.
Saingannya, Unilever, yang juga mendapat kritik karena memiliki terlalu banyak merek. Pada Maret 2024, Unilever berencana memisahkan bisnis es krimnya dan telah mengisyaratkan kesediaannya untuk menjual merek yang lebih lemah.
Freixe sebelumnya mengatakan ingin berinvestasi besar-besaran pada merek inti perusahaan seperti Nescafe dan Maggi, yang membuat sup, saus, dan mie. "Rencana aksi kami juga akan meningkatkan cara kami beroperasi, menjadikan kami lebih efisien, responsif, dan gesit," kata Freixe dalam sebuah pernyataan. Dia menyebutkan, pihaknya ingin memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.