Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - LONDON. Industri manajer investasi global kembali bergolak. Perusahaan pengelola dana asal Inggris, Schroders, resmi menyepakati akuisisi oleh manajer aset asal Amerika Serikat, Nuveen, dengan nilai transaksi 9,9 miliar poundsterling atau sekitar US$ 13,5 miliar.
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Reuters (13/2) melaporkan, akuisisi tersebut sekaligus menandai berakhirnya era 222 tahun kiprah Schroders sebagai perusahaan independen yang dikendalikan keluarga pendirinya. Dalam transaksi ini, keluarga besar Schroders juga akan melepas kepemilikan mereka.
Pemegang saham Schroders akan menerima 590 pence per saham secara tunai, ditambah dividen yang diperbolehkan hingga 22 pence. Artinya, valuasi efektif mencapai 612 pence per saham premi 34% dari harga penutupan sehari sebelumnya, berdasarkan data London Stock Exchange Group.
Premi setinggi itu menunjukkan betapa agresifnya Nuveen mengincar ekspansi global. Di tengah tekanan industri pengelolaan dana akibat arus keluar dana aktif dan persaingan produk pasif berbiaya murah, langkah konsolidasi menjadi strategi yang makin tak terhindarkan.
Nuveen yang didukung oleh Teachers Insurance and Annuity Association of America menyebut akuisisi ini akan menciptakan platform public-to-private terkemuka dengan jangkauan lebih luas di Amerika, Eropa, hingga Asia-Pasifik. Dengan kata lain, ini adalah langkah mempertegas dominasi manajer aset AS di panggung global, termasuk di pasar Eropa yang selama ini relatif defensif.
Baca Juga: Manulife Corp Sepakati Pembelian Bisnis Schroders di Indonesia
Yang menarik, Nuveen telah mengantongi komitmen tak dapat dibatalkan dari kelompok pemegang saham utama Schroders yang menguasai 41% saham melalui berbagai perwalian keluarga. Dukungan ini praktis mengamankan jalan transaksi.
Ketua Schroders Elizabeth Corley menyatakan, dewan yakin langkah ini tepat bagi pemegang saham, klien, dan karyawan. Namun, di balik pernyataan normatif tersebut, pertanyaannya jelas, apakah akuisisi ini akan memperkuat daya saing jangka panjang, atau justru menandai semakin menyusutnya independensi manajer aset Eropa?
Dari sisi kinerja, Schroders sebenarnya tidak sedang terpuruk. Perusahaan membukukan laba operasional yang disesuaikan sebesar 756,6 juta poundsterling pada 2025, melonjak 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, penjualan ini bukan karena tekanan kinerja akut, melainkan keputusan strategis di tengah lanskap industri yang berubah cepat.
CEO Schroders Richard Oldfield akan tetap memimpin setelah transaksi rampung, dengan London menjadi kantor pusat non-AS bagi entitas gabungan. Meski demikian, arah kendali kini bergeser ke seberang Atlantik.
Gelombang konsolidasi manajer aset global tampaknya belum akan berhenti. Dan bagi pasar Eropa, akuisisi ini bisa menjadi sinyal bahwa mempertahankan skala dan daya saing tanpa mitra besar semakin sulit di era persaingan global yang kian ketat.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)