Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) melonjak dalam perdagangan pra-pasar pada Senin (5/1/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengambil langkah tegas terhadap kepemimpinan Venezuela yang memicu spekulasi terbukanya kembali akses perusahaan AS ke cadangan minyak terbesar di dunia.
Saham Chevron, satu-satunya perusahaan migas raksasa AS yang saat ini masih beroperasi di ladang minyak Venezuela, melesat 7,3%.
Sementara saham perusahaan kilang minyak seperti Phillips 66, Marathon Petroleum, Valero Energy, dan PBF Energy melonjak di kisaran 5% hingga 16%.
Baca Juga: Banjir Pasokan, Harga Minyak Mentah Tergelincir 0,4% di Sore Ini (5/1)
Penguatan saham tersebut terjadi setelah Trump menyatakan bahwa AS membutuhkan “akses penuh” terhadap cadangan minyak Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Pernyataan itu memperkuat ekspektasi pasar bahwa Washington berpotensi melonggarkan pembatasan ekspor minyak mentah Venezuela.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” ujar Trump pada Sabtu lalu.
Pada era 1970-an, produksi minyak Venezuela sempat mencapai 3,5 juta barel per hari (bph) atau lebih dari 7% pasokan minyak global.
Namun, produksi anjlok di bawah 2 juta bph pada 2010-an dan rata-rata hanya sekitar 1,1 juta bph tahun lalu, setara 1% pasokan dunia, akibat sanksi ekonomi dan minim investasi selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Fantastis! Seekor Tuna Sirip Biru Laku Rp54 Miliar di Lelang Ikan Tokyo
Minyak mentah Venezuela dikenal sebagai heavy sour crude dengan kandungan sulfur tinggi.
Jenis minyak ini cocok untuk memproduksi diesel dan bahan bakar berat lainnya, meskipun marginnya lebih rendah dibanding minyak dari Timur Tengah.
“Jenis minyak ini sangat sesuai dengan konfigurasi kilang minyak di Pantai Teluk AS, yang sejak awal memang dirancang untuk mengolah minyak berat seperti ini,” kata Ahmad Assiri, analis riset di Pepperstone.
Keberadaan Chevron di Venezuela melalui skema dispensasi (waiver) AS menempatkan perusahaan tersebut sebagai pihak yang berpotensi menjadi penerima manfaat awal jika terjadi perubahan kebijakan.
Di sisi lain, perusahaan kilang juga diuntungkan dari potensi peningkatan pasokan minyak berat yang lebih dekat secara geografis.
Baca Juga: Taiwan Tambah Dakwaan dalam Kasus Dugaan Pencurian Rahasia Dagang TSMC
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa pemulihan produksi minyak Venezuela secara signifikan akan memerlukan waktu, mengingat ketidakpastian politik, kerusakan infrastruktur, serta dampak panjang dari kurangnya investasi.













