Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - HINDUPUR. Industri tekstil India berhasil bangkit meski pandemi belum berakhir. Berbagai pabrik Texport Industries yang terletak di selatan India tengah dipenuhi ribuan pekerja perempuan. Mereka sibuk mengubah benang dan kain menjadi kaus oblong, kemeja, atasan spaghetti, dan pakaian anak-anak untuk pelanggan AS Tommy Hilfiger dan Kohl's Corp.
Setelah dikalahkan dalam beberapa tahun terakhir oleh negara tetangga Bangladesh dan kemudian dihantam oleh pandemi Covid-19, pabrik garmen India sekarang mendekati kapasitas penuh. Ini sebagai titik terang pasar tenaga kerja yang langka bagi Perdana Menteri Narendra Modi dan partainya yang berkuasa saat mereka menuju pemilihan pada tahun 2024, mengutip Reuters pada Minggu (13/2).
"Kami sangat sibuk. Kami terus mencari lebih banyak lagi pekerja untuk dipekerjakan di pabrik ini,” ujar Parashuram, kepala salah satu pabrik Texport di negara itu, saat 60 perempuan baru yang direkrut berlatih menjahit.
Baca Juga: Jadi Bahan Baku Parfum, Pemerintah Siap Dorong Pemanfaatan Minyak Nilam
Texport sedang mencari lahan untuk menambah pabrik baru di sekitar basis produksi utamanya di Hindupur, sekitar 100 km utara dari pusat teknologi Bengaluru. Keberhasilan berkelanjutan untuk industri tekstil dan pakaian jadi, pemberi kerja terbesar di negara itu setelah pertanian, sangat penting jika Modi ingin berhasil menjinakkan pengangguran yang berlarut-larut.
Tingkat pengangguran India di atas 7% dan diperkirakan telah melampaui rata-rata global dalam lima dari enam tahun terakhir. Ini telah menjadi masalah besar bagi negara yang harus menciptakan jutaan pekerjaan setiap tahun hanya untuk mengimbangi kaum muda yang bergabung dengan pasar tenaga kerja.
India adalah eksportir tekstil dan pakaian jadi terbesar kelima di dunia dengan pangsa 4% dari pasar global senilai US$ 840 miliar. Sementara China menguasai lebih dari sepertiganya.
Baca Juga: India Tebar Insentif Kendaraan Bersih, Ford, Suzuki dan Hyundai Termasuk yang Dapat
Ekspor India setara dengan saingan terdekatnya Bangladesh sekitar satu dekade lalu tetapi telah tertinggal dalam beberapa tahun terakhir terutama pada pakaian. Ini terjadi akibat biaya tenaga kerja yang lebih tinggi yang membuat pakaian India sekitar 20% lebih mahal.
Perusahaan tekstil dan pakaian jadi India mengatakan mereka sekarang menambah klien baru. Seiring menjual lebih banyak ke klien lama dan meningkatkan kapasitas produksi karena pembeli asing berusaha mendiversifikasi rantai pasokan mereka.
Selain China, hanya India yang memiliki rantai pasokan besar untuk segala hal mulai dari kapas hingga garmen.
Namun, beberapa pemimpin industri mengatakan bahwa kecuali India menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara Barat. Sebab tidak akan mudah untuk menjual lebih banyak dari Bangladesh, yang juga menikmati persyaratan ekspor preferensial dari banyak pembeli sebagai negara kurang berkembang.
Baca Juga: Unilever PLC Memperingatakan Margin Keuntungan Tahun Ini Bakal Terpukul
Perusahaan India seperti Texport, Welspun India, dan Raymond telah melayani klien seperti pengecer Barat Amazon, Target, Costco, Walmart Inc, Tesco, dan Macy's telah berhasil meningkatkan penjualan dalam beberapa kuartal terakhir. Modi ingin mereka menciptakan sekitar 1,5 juta pekerjaan di sektor ini selama lima tahun ke depan atau lebih.
Menteri tekstil junior India, Darshana Jardosh, pada hari Rabu mendaftarkan pengumuman baru-baru ini untuk mendukung industri ini. Dia mendirikan tujuh taman tekstil all-in-one besar senilai US$ 600 juta untuk lebih meningkatkan lapangan kerja dan memudahkan pembeli asing untuk memesan dan memantau rantai pasokan. Pemerintah juga telah mengusulkan insentif terkait produksi tekstil senilai US$ 1,4 miliar.
American Apparel & Footwear Association (AAFA) mengatakan investasi India yang sedang berlangsung dan direncanakan telah menghasilkan lebih banyak perusahaan yang melihat India sebagai sumber pertumbuhan potensial selama tahun-tahun mendatang.
Baca Juga: Pembelian Jet Rafale Oleh Indonesia, Perluas Relasi Geopolitik Prancis di IndoPasifik
Dua sumber industri yang mengetahui masalah ini mengatakan Uniqlo Fast Retailing dan Gap Inc sedang dalam pembicaraan untuk memperluas pembelian dari India. Perusahaan-perusahaan, yang bersumber dari India terutama dari eksportir garmen terbesar negara itu Shahi Exports, tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Direktur Pelaksana Ekspor Shahi Harish Ahuja menolak untuk membahas pembeli individu tetapi mengatakan permintaan tinggi dari pelanggan yang ada.
Asal tahu saja, Ekspor tekstil dan pakaian jadi India periode April hingga Desember melonjak 52% menjadi US$ 30,5 miliar dari periode tahun lalu. Sejalan dengan pemerintah telah menetapkan target tahun fiskal penuh sebesar US$ 44 miliar, bila tercapai ini akan menjadi rekor.
Sementara ekspor tekstil global mencatat tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 2% antara 2015 dan 2019, India menyusut 0,8%, menurut laporan industri. Baik Bangladesh dan Vietnam tumbuh 10% atau lebih.
Baca Juga: Bank Sentral India (RBI) Menjaga Suku Bunga Pinjaman Utama Pada Rekor Terendah
Salah satu faktor di balik lonjakan penjualan perusahaan India ke Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa kuartal terakhir adalah dugaan pelanggaran hak di provinsi penghasil kapas utama China, Xinjiang, tempat komunitas minoritas Muslim Uyghur tinggal.
Presiden AS Joe Biden pada akhir Desember menandatangani undang-undang yang melarang impor dari Xinjiang. China telah menolak tuduhan kerja paksa atau pelanggaran lainnya di Xinjiang. Baca selengkapnya
Asosiasi Kapas China merujuk Reuters ke pernyataan Desember yang memperingatkan "dampak parah" pada industri tekstil kapasnya karena langkah AS.
Raymond, pengekspor jas pria, jaket dan denim India, mengatakan faktor China membantunya baru-baru ini mendapatkan klien baru yang telah lama dikejar.
Baca Juga: Omicron Menguasai Dunia, Kasus COVID-19 Melampaui Angka 400 Juta













