CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Di tengah protes berdarah anti-kudeta, Rusia perkuat hubungan militer dengan Myanmar


Jumat, 26 Maret 2021 / 23:21 WIB
ILUSTRASI. Tentara menggeledah markas Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) setelah kudeta di Yangon, Myanmar, Senin (15/2/2021). REUTERS/Stringer


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

Hubungan pertahanan antara Rusia dan Myanmar telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dengan Moskow memberikan pelatihan militer dan beasiswa universitas.

Tidak hanya itu, Rusia menjual senjata ke militer Myanmar yang masuk daftar hitam oleh beberapa negara Barat atas tuduhan kekejaman terhadap warga sipil.

Rusia adalah sumber setidaknya 16% persenjataan yang Myanmar peroleh dari 2014 hingga 2019, menurut sebuah studi tahun 2020 oleh Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.

Yadanar Maung, perwakilan kelompok kampanye Justice for Myanmar, mengatakan, Rusia melegitimasi junta dan menyerukan masyarakat internasional untuk memberlakukan embargo senjata global.

"Rusia terlibat dalam kampanye teror militer terhadap rakyat," sebut Yadanar Maung kepada Reuters. "Kami terkejut, para pejabat Rusia melakukan perjalanan ke Myanmar untuk melegitimasi junta militer ilegal".

Selanjutnya: Tekanan internasional terhadap para Jenderal Myanmar meningkat




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×