CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Di tengah protes berdarah anti-kudeta, Rusia perkuat hubungan militer dengan Myanmar


Jumat, 26 Maret 2021 / 23:21 WIB
ILUSTRASI. Tentara menggeledah markas Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) setelah kudeta di Yangon, Myanmar, Senin (15/2/2021). REUTERS/Stringer


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

Hubungan pertahanan antara Rusia dan Myanmar telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dengan Moskow memberikan pelatihan militer dan beasiswa universitas.

Tidak hanya itu, Rusia menjual senjata ke militer Myanmar yang masuk daftar hitam oleh beberapa negara Barat atas tuduhan kekejaman terhadap warga sipil.

Rusia adalah sumber setidaknya 16% persenjataan yang Myanmar peroleh dari 2014 hingga 2019, menurut sebuah studi tahun 2020 oleh Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.

Yadanar Maung, perwakilan kelompok kampanye Justice for Myanmar, mengatakan, Rusia melegitimasi junta dan menyerukan masyarakat internasional untuk memberlakukan embargo senjata global.

"Rusia terlibat dalam kampanye teror militer terhadap rakyat," sebut Yadanar Maung kepada Reuters. "Kami terkejut, para pejabat Rusia melakukan perjalanan ke Myanmar untuk melegitimasi junta militer ilegal".

Selanjutnya: Tekanan internasional terhadap para Jenderal Myanmar meningkat




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×