kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Digitalisasi di Pasar Seni, Art Basel Pamerkan Karya Seni dari Coding Hingga AI


Jumat, 19 Juni 2026 / 16:38 WIB
Digitalisasi di Pasar Seni, Art Basel Pamerkan Karya Seni dari Coding Hingga AI
ILUSTRASI. Art Basel merangkul seni digital dengan pameran baru (Dado Ruvic/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - BASEL. Arah pasar seni dunia tahun ini makin mantap masuk ke ranah digital. Ini terlihat dari pelaksanaan Art Basel tahun ini, yang merangkul seni digital dengan pameran baru. Bahkan, pameran seni terbesar di dunia ini bertaruh pasar ini akan berkembang pesat.

Reuters melaporkan, Kepala Eksekutif Art Basel Noah Horowitz mengatakan, daya tarik seni digital adalah taruhan alami untuk masa depan dengan generasi muda yang tumbuh dewasa di depan layar.

"Banyak hal yang akan menarik minat generasi tersebut untuk dikoleksi dan diperoleh adalah objek dan hal-hal yang berbicara dalam bahasa tersebut," kata Horowitz, kepada Reuters, Jumat (19/6/2026).

Baca Juga: Pasar Kerja AS Melambat, Pengangguran Bertahan Lebih Lama.

Yang termasuk seni digital ini mulai dari karya di layar dan video, hingga lukisan yang dibuat dengan teknologi komputer, termasuk dari Photoshop, coding, bahkan akal imitasi (AI).

Art Basel memamerkan karya-karya digital ini di area yang diberi nama Zero 10, yang berlokasi di seberang area pameran lukisan dan patung pameran. Ini pertama kalinya Art Basel menggelar pameran seni digital di markasnya, setelah sebelum ini untuk pertama kali memamerkan karya serupa di Miami, Desember lalu.

Menurut Art Basel & UBS Global Art Market Report 2026, penjualan seni digital hanya menyumbang 3% dari total penjualan seni global senilai US$ 59,6 miliar tahun lalu. Tetapi angka ini meningkat dari hanya 1% pada 2024.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Membengkak, Uni Eropa Tekan Transaksi Dagang Dengan China

Penasihat seni UBS Eric Landolt mengatakan, kondisi ini mencerminkan meningkatnya minat tidak hanya dari pembeli milenial dan Gen Z, tetapi juga dari kolektor berpengalaman dan institusi.

William Mapan, seorang seniman Prancis yang dua tahun lebih terakhir menciptakan lukisan melalui coding yang detail, mengatakan, pada awalnya, tidak ada yang tertarik pada seni digital. Tapi pada pembukaan Selasa (16/6/2026) lalu, karyanya terjual habis dalam satu jam pertama.

"Orang biasanya mengatakan melukis dan coding adalah disiplin ilmu yang sepenuhnya terpisah, tetapi itu tergantung pada cara Anda melihatnya. Itu hanya bahasa. Melukis adalah bahasa, coding adalah bahasa, dan Anda dapat membuat bahasa baru ketiga di antaranya," papar Mapan.

Baca Juga: Sentimen MSCI Tekan Pasar Finansial Domestik: Rupiah Loyo dan IHSG Merosot

Namun demikian, ada kekhawatiran seni digital terpapar teknologi yang terus berkembang. "Anda mungkin memiliki format digital yang ada sekarang, tetapi bagaimana Anda memastikan format tersebut tetap berfungsi di masa depan?" kata Landolt.

Alejandro Cartagena, salah satu pendiri Fellowship, sebuah galeri yang menjual karya seni digital senilai US$ 500.000 karya John Gerrard di Zero 10, mengatakan, risiko tersebut telah diperhitungkan.

"Setiap kolektor memiliki rincian pasti tentang apa yang dibutuhkan agar karya ini dapat terus berjalan selamanya. Kami sangat berkomitmen terhadap konservasi karya-karya tersebut," katanya.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×