kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Sentimen MSCI Tekan Pasar Finansial Domestik: Rupiah Loyo dan IHSG Merosot


Jumat, 19 Juni 2026 / 15:52 WIB
Sentimen MSCI Tekan Pasar Finansial Domestik: Rupiah Loyo dan IHSG Merosot
ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (KONTAN/Panji Indra)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Jumat (19/6/2026).

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak bertumbangan setelah penyedia indeks global, MSCI, menyuarakan kembali kekhawatiran mendalam terkait aspek investability (kelayakan investasi) di pasar modal Indonesia.

Baca Juga: Pengadilan India Menyatakan Pemblokiran Aplikasi Telegram Sah!

Melansir Reuters, IHSG tercatat merosot hingga 0,9% setelah sempat bergerak tanpa arah yang jelas pada pembukaan sesi.

Setali tiga uang, di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh level Rp 17.850 per dolar Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya sedikit memangkas kerugian ke kisaran Rp 17.775 per dolar AS pada tengah hari.

Sorotan Tata Kelola dan Aliran Dana Asing

Pemicu utama koreksi massal ini adalah langkah MSCI yang menurunkan kriteria aliran informasi (information flow) Indonesia menjadi "negatif".

Lembaga penilai indeks tersebut memberikan peringatan keras mengenai terbatasnya transparansi kepemilikan saham serta adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi (coordinated trading behaviour) pada sejumlah saham di dalam negeri.

Baca Juga: Uni Eropa Kenakan Tarif Tambahan Mobil Hybrid China, BYD hingga SAIC Jadi Sasaran

Rapor merah dari MSCI ini menjadi pukulan telak baru bagi pasar modal domestik yang sepanjang tahun 2026 ini sudah babak belur.

Data mencatat, investor asing telah menarik dana (outflow) sekitar US$ 3,65 miliar dari pasar ekuitas Indonesia.

"Kelemahan ini terkonsentrasi pada tata kelola (governance) dan kualitas organisasi pasar, bukan pada pilar struktural yang menentukan klasifikasi indeks," tulis tim analis dari Citi dalam risetnya.

Penurunan status pada kriteria aliran informasi ini dinilai merespons langsung kegelisahan investor global terkait transparansi kepemilikan saham, kualitas free-float, serta integritas pembentukan harga (price discovery) pada sejumlah emiten spesifik di Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah India Selidiki Dugaan Limbah Pabrik Tata Electronics Kontaminasi Air

Ujian Berat Menanti Pekan Depan

Pasar kini bersiap menghadapi ujian krusial berikutnya, yakni tinjauan klasifikasi pasar (market classification review) oleh MSCI yang dijadwalkan pekan depan.

Meskipun mayoritas pelaku pasar memperkirakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini masih akan mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market (Pasar Negara Berkembang), risiko penurunan kasta (downgrade) ke Frontier Market (Pasar Perintis) tetap diwaspadai karena berpotensi memicu gelombang outflow susulan.

Inki Cho, Strategis Pasar Keuangan Senior di Exness, memperingatkan bahwa sentimen negatif ini muncul di tengah ketegangan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.

Jika outflow akibat penurunan peringkat benar-benar terjadi, maka ambisi belanja populis dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan semakin sulit didanai tanpa memicu reaksi negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional (rating agencies).

Selain Indonesia, MSCI terpantau juga menyematkan status "negatif" untuk kriteria aliran informasi Turki karena masalah serupa, yaitu minimnya transparansi pada struktur kepemilikan saham emitennya.

Baca Juga: Negosiasi Perdamaian AS-Iran di Swiss Batal, Harga Minyak Kembali Memanas

Bursa Regional Ikut Terkoreksi dari Rekor Tertinggi

Aksi jual tidak hanya melanda Jakarta. Indeks MSCI EM Asia melorot hampir 1%, turun dari rekor tertinggi barunya.

Korea Selatan: Indeks KOSPI ditutup turun tipis 0,1% setelah sempat berfluktuasi tajam akibat aksi ambil untung pasca-reli 17% dalam enam sesi terakhir yang dimotori saham cip.

Singapura & Filipina: Indeks Straits Times Singapura terkoreksi 0,8% dari level tertinggi sepanjang masa, sementara bursa Manila turun 0,3% diiringi pelemahan peso ke level 60,779 per dolar AS menyusul keputusan bank sentral Filipina yang kembali menaikkan suku bunga acuan.

Malaysia & Thailand: Bursa Malaysia melemah 0,6% dengan ringgit menyentuh level terendah dalam 7 bulan.

Baca Juga: Negosiasi Damai AS-Iran di Swiss Batal, Harapan Gencatan Senjata Memudar

Sementara bursa Thailand terpangkas 0,7% seiring jatuhnya mata uang baht ke level terendah dalam sepekan.

Koreksi massal di bursa Asia ini juga diperparah oleh minimnya likuiditas akibat hari libur pasar di AS dan Taiwan, serta meningkatnya kembali harga minyak dunia setelah negosiasi gencatan senjata AS-Iran menunjukkan tanda-tanda hambatan awal di Lebanon Selatan.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×