kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.845   66,00   0,39%
  • IDX 8.104   -42,84   -0,53%
  • KOMPAS100 1.140   -5,81   -0,51%
  • LQ45 829   -3,44   -0,41%
  • ISSI 285   -2,28   -0,79%
  • IDX30 433   -0,67   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   1,04   0,20%
  • IDX80 127   -0,56   -0,44%
  • IDXV30 142   0,14   0,10%
  • IDXQ30 140   0,20   0,14%

Diskon Minyak Rusia ke China Pecahkan Rekor, Imbas Potensi Setop Impor India


Kamis, 05 Februari 2026 / 18:39 WIB
Diskon Minyak Rusia ke China Pecahkan Rekor, Imbas Potensi Setop Impor India
ILUSTRASI. Diskon minyak mentah Rusia ke China melebar ke rekor baru. Kilang China panen cuan besar, namun ada batas serapan yang harus diwaspadai. (DOK/sledanounas.ru)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diskon harga minyak mentah Rusia yang diekspor ke China melebar ke level rekor baru pada pekan ini.

Para penjual memangkas harga untuk menarik permintaan dari importir minyak terbesar dunia tersebut, sekaligus mengantisipasi potensi hilangnya pasar India, menurut para pelaku pasar.

Pemangkasan harga untuk pembeli China terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dagang dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Kesepakatan itu disebut mencakup penghentian pembelian minyak Rusia oleh India, meskipun belum dijelaskan secara rinci mekanisme dan waktunya.

Jika India benar-benar menghentikan impor, maka China akan menjadi satu-satunya pembeli besar minyak murah Rusia. Kondisi ini terjadi ketika eksportir minyak terbesar kedua di dunia tersebut sudah menghadapi penurunan permintaan dari India akibat sanksi Barat, dengan volume minyak Rusia yang tertahan di penyimpanan terapung (floating storage) terus meningkat.

Baca Juga: Paus Leo Desak Rusia dan AS Memperbarui Perjanjian Senjata Nuklir

Analis JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva memperkirakan skenario dasar (base case) bahwa India masih akan mengimpor minyak Rusia sekitar 800.000 hingga 1 juta barel per hari, atau setara 17%–21% dari total impor minyak mentah India, pasca kesepakatan dagang tersebut.

Sebagai perbandingan, impor minyak Rusia oleh India sempat mencapai puncak sekitar 2 juta barel per hari pada Juni tahun lalu.

Dalam catatan riset tertanggal 4 Februari, para analis menilai China—khususnya kilang independen di Provinsi Shandong—menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren ini.

Mereka menyerap sebagian besar pasokan Rusia yang teralihkan, sekaligus meningkatkan margin, tingkat operasi kilang, dan cadangan strategis berkat diskon harga yang dalam serta dukungan kebijakan domestik.

Diskon Harga Makin Lebar

Sumber perdagangan menyebutkan, diskon untuk minyak jenis ESPO Blend yang dikirim dari pelabuhan Pasifik Kozmino ke China melebar hingga hampir US$ 9 per barel terhadap harga acuan ICE Brent pada pekan ini. Sebelumnya, diskon berada di kisaran US$ 7–US$ 8 per barel dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, diskon untuk minyak jenis Urals yang diekspor dari kawasan Baltik—biasanya dikirim ke India—berada di kisaran US$ 12 per barel dan berpotensi melebar lebih jauh.

Baca Juga: Xi Jinping dan Vladimir Putin Lakukan Panggilan Video, Ini Isinya

Analis Vortexa, Emma Li, mengatakan bahwa pembeli China dalam beberapa bulan terakhir menikmati diskon minyak Rusia yang berada di level terendah dalam beberapa tahun. Bahkan, sebagian pembeli mengurangi impor minyak Iran demi menyerap lebih banyak pasokan Rusia.

“Jika penarikan India benar-benar terjadi dan memicu diskon yang lebih dalam, perilaku ini kemungkinan akan berlanjut dalam waktu dekat,” ujarnya.

Kilang independen China yang dikenal sebagai teapots tetap menjadi pembeli utama minyak yang terkena sanksi. Volume minyak Rusia yang masuk ke pusat kilang teapot di Shandong pada Januari tercatat mencapai rekor tertinggi.

Sebaliknya, kilang milik negara China menghentikan pembelian minyak Rusia melalui jalur laut sejak Oktober setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap produsen Rusia seperti Rosneft dan Lukoil.

Batas Kapasitas Permintaan China

Meski demikian, para analis dan pelaku pasar menilai China kemungkinan sudah mencapai batas kapasitas untuk menyerap minyak mentah Rusia, terutama jika kilang milik negara tetap tidak kembali membeli.

Data dari firma analitik Kpler menunjukkan impor minyak Rusia via laut ke China naik ke rekor 1,7 juta barel per hari pada Januari, ketika India justru menurunkan impor menjadi 1,1 juta barel per hari—terendah sejak November 2022.

Sementara itu, OilX mencatat impor China pada Januari mencapai 1,64 juta barel per hari, tertinggi sejak Maret 2024.

Baca Juga: Kremlin Angkat Bicara Terkait Rencana India Diversifikasi Pasokan Minyak

Para analis menilai kilang independen China tidak memiliki kapasitas cukup untuk menyerap seluruh kelebihan pasokan Rusia.

Analis senior Energy Aspects, Sun Jianan, memperkirakan aliran minyak Rusia ke China melalui jalur laut akan mulai menurun sejak Maret, setelah lonjakan tinggi pada Januari–Februari 2026, seiring meningkatnya persediaan di darat.

Emma Li dari Vortexa menambahkan bahwa tanpa kembalinya kilang milik negara China ke pasar minyak Rusia, Rusia tetap akan menghadapi kondisi kelebihan pasokan meskipun permintaan dari teapots kuat.

Namun, masih ada peluang tambahan permintaan. Reuters melaporkan bahwa CNPC berencana mengaktifkan kembali salah satu unit kilangnya di Dalian pada pertengahan tahun ini untuk memanfaatkan margin tinggi dari pengolahan minyak Rusia.

Selanjutnya: Anatomi Market BEI (5 Februari 2026): Jejak Smart Money di Saham Lapis Dua

Menarik Dibaca: 4 Zodiak Paling Red Flag, Ada yang Terlalu Posesif dan Tidak Konsisten!




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×