Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam sepekan terhadap sejumlah mata uang utama pada Jumat (28/8/2026). Pelaku pasar cenderung menahan transaksi sambil menunggu pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Jackson Hole.
Pidato perdana Warsh di Wyoming dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 GMT atau sekitar pukul 21.00 WIB. Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena inflasi AS masih bertahan di atas target 2% The Fed.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini. Ekspektasi tersebut turut menopang penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
Pasar juga menantikan komentar Warsh mengenai arah kebijakan moneter dan upaya Departemen Keuangan AS menekan biaya pinjaman jangka panjang di tengah volatilitas pasar obligasi.
Namun, analis menilai peluang Warsh memberikan panduan kebijakan secara langsung relatif terbatas. Sebaliknya, pasar kemungkinan lebih banyak mendapatkan informasi mengenai perkembangan lima gugus tugas yang dibentuk Warsh pada awal masa jabatannya untuk mengevaluasi mekanisme kerja The Fed.
Euro dan Poundsterling Melemah
Di pasar valuta asing, euro dan poundsterling sedikit melemah terhadap dolar AS. Euro terakhir berada di level US$1,165, sedangkan poundsterling berada di US$1,358.
Kedua mata uang tersebut berada di jalur penurunan mingguan pertama dalam sebulan.
Baca Juga: Perang Iran Ubah Peta Perdagangan Global, Negara Teluk Genjot Investasi Infrastruktur
Sementara itu, yen Jepang juga melemah tipis menjadi 159,44 yen per dolar AS. Investor mencermati data inflasi terbaru dari Tokyo untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan Bank of Japan (BOJ).
Volkmar Baur, analis valuta asing dan komoditas di Commerzbank, menilai terdapat kemungkinan The Fed mempertimbangkan ukuran inflasi selain indikator yang selama ini menjadi acuan.
"Meski Warsh telah berulang kali menekankan dalam beberapa pekan terakhir bahwa target 2% The Fed tidak dapat dinegosiasikan, dia tidak pernah secara eksplisit menyebut deflator PCE dalam konteks ini," kata Baur dalam catatannya, merujuk pada indikator harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE).
"Karena itu, bisa saja The Fed setidaknya sedang mempertimbangkan penggunaan ukuran inflasi yang berbeda," ujarnya.
"Petunjuk seperti itu kemungkinan akan menghentikan ekspektasi kenaikan suku bunga sejak awal dan ditafsirkan pasar sebagai sinyal dovish. Dolar AS dapat berada di bawah tekanan sebagai akibatnya," tambahnya.
Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, berada di level 99,18. Posisi tersebut sedikit di bawah level tertinggi dalam sepekan pada Kamis (27/8/2026), yakni 99,26.
Pasar Terbelah soal Kenaikan Suku Bunga The Fed
Perhatian pasar kini berpusat pada pertanyaan apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan kebijakan yang ada hingga akhir tahun.
Di sela-sela konferensi Jackson Hole pada Kamis, sejumlah pejabat The Fed kembali menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga. Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah data menunjukkan tekanan harga masih persisten.
Meski demikian, analis menilai kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026 lebih besar. Jika skenario tersebut terjadi, dolar AS berpotensi menghadapi tekanan.
Baca Juga: Kenaikan Harga Barang Melesat, Daya Beli Warga Prancis di Kuartal Dua Merosot
"Kami secara umum sedikit bearish terhadap dolar AS menuju akhir tahun karena kami tidak memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September atau bahkan sama sekali. Kami memperkirakan nilai tukar dolar/yen berada di sekitar 158 pada akhir tahun," ujar Chris Turner, global head of markets ING.
Yen Tertekan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat
Yen Jepang telah menghapus sebagian penguatan yang sebelumnya didorong oleh intervensi dan menuju penurunan sekitar 1,2% sepanjang Agustus.
Di Tokyo, inflasi inti tahunan meningkat pada Agustus. Data tersebut dirilis sehari setelah Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino menekankan pentingnya kenaikan suku bunga secara tepat waktu.
Data yang dihimpun LSEG menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan.
Dolar Australia Menguat, Bitcoin Cetak Kenaikan Bulanan Besar
Dolar Australia berada di jalur penguatan selama sembilan pekan berturut-turut seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.
Mata uang tersebut telah menguat sekitar 0,4% sepanjang pekan ini dan terakhir diperdagangkan di level US$0,721, atau berada di posisi tertinggi dalam tiga bulan.
Sementara itu, dolar Kanada cenderung bergerak datar di level US$0,722. Mata uang tersebut menuju penurunan mingguan pertama sejak pertengahan Juli setelah ketegangan perdagangan dengan AS meningkat.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Terkoreksi 1,79% Jumat (28/8), Catat Penurunan Mingguan Kedua
Di pasar aset kripto, Bitcoin turun ke sekitar US$79.652. Kendati demikian, Bitcoin masih berada di jalur kenaikan hampir 30% sepanjang Agustus, yang menjadi penguatan bulanan terbesar sejak akhir 2024.
Sejumlah analis menilai kekhawatiran terhadap tingginya tingkat utang pemerintah AS menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan aset kripto sepanjang bulan ini.
Pergerakan pasar valuta asing dan aset berisiko selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh pidato Warsh di Jackson Hole. Investor akan mencermati setiap petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed, terutama terkait prospek suku bunga dan pendekatan bank sentral AS terhadap inflasi.














