kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.846   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.385   112,84   1,36%
  • KOMPAS100 1.180   16,39   1,41%
  • LQ45 846   10,38   1,24%
  • ISSI 299   3,73   1,26%
  • IDX30 443   6,62   1,52%
  • IDXHIDIV20 527   5,40   1,03%
  • IDX80 131   1,65   1,27%
  • IDXV30 144   1,07   0,75%
  • IDXQ30 142   1,75   1,25%

Dolar Australia dan NZ Bertahan Senin (23/2), Dolar AS Tertekan Isu Tarif


Senin, 23 Februari 2026 / 09:03 WIB
Dolar Australia dan NZ Bertahan Senin (23/2), Dolar AS Tertekan Isu Tarif
ILUSTRASI. Dolar Australia (KONTAN/Baihaki)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Australia dan Selandia Baru bertahan stabil pada perdagangan Senin (23/2/2026), sementara dolar AS melemah di tengah kebingungan atas pengumuman tarif baru Presiden Donald Trump setelah sebagian kebijakannya dibatalkan pengadilan.

Melansir Reuters, dolar Australia (Aussie) bergerak datar di US$0,7080, setelah menguat 0,5% pada Jumat dan mencatat kenaikan enam pekan berturut-turut.

Level tertinggi tiga tahun di US$0,71465 masih menjadi target utama pelaku pasar bullish, sementara tekanan jual berpotensi muncul jika menembus US$0,6897.

Baca Juga: Menteri Keuangan Otoritas Palestina Kunjungi Singapura dalam Lawatan Resmi Empat Hari

Dolar Selandia Baru (kiwi) naik 0,2% ke US$0,5990, setelah sempat melemah 1% pekan lalu hingga US$0,5940.

Pelemahan tersebut terjadi setelah Reserve Bank of New Zealand meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dengan menegaskan kebijakan moneter longgar akan dipertahankan untuk beberapa waktu.

Dampak Putusan Mahkamah Agung AS

Kebingungan pasar muncul setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan sebagian besar tarif Trump pada Jumat.

Presiden AS itu kemudian mengumumkan tarif baru 10% untuk seluruh dunia sebelum menaikkannya menjadi 15% pada akhir pekan.

Belum jelas kapan tarif tersebut diberlakukan, produk apa saja yang dikecualikan, serta apakah semua negara akan dikenakan tarif 15%.

Baca Juga: Singapura Berpotensi Kena Tarif Baru AS 15%, Pemerintah Minta Dunia Usaha Bersiap

Sebelumnya, AS mengenakan tarif 10% untuk barang Australia dan 15% untuk produk Selandia Baru.

Joseph Capurso, Kepala Ekonomi Internasional di Commonwealth Bank of Australia mengatakan, putusan Mahkamah Agung telah diperkirakan luas dan menunjukkan bahwa presiden memiliki batas kewenangan.

“Kami tidak memperkirakan gejolak pasar seperti April 2025 akan terulang. Namun, penerapan tarif 15% nantinya dengan kemungkinan pengecualian untuk pangan, teknologi, dan USMCA akan berdampak berbeda pada tiap ekonomi,” ujarnya.

Data Ekonomi dan Prospek Suku Bunga

Dari Selandia Baru, data menunjukkan volume penjualan ritel tumbuh 0,9% pada kuartal Desember, melambat dibanding kuartal sebelumnya namun tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Bursa Australia Turun Terseret Tarif AS, Saham Teknologi dan Energi Tertekan

Di Australia, perhatian pasar tertuju pada data inflasi Januari yang akan dirilis Rabu. Data ketenagakerjaan yang kuat pekan lalu mendorong peluang kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia pada Mei menjadi sekitar 70%.

Perkiraan pasar menunjukkan inflasi inti bulanan (trimmed mean) naik 0,3%, yang akan menjaga laju tahunan di 3,3%, masih di atas target RBA sebesar 2%–3%.

Gubernur RBA Michele Bullock dijadwalkan berbicara di Melbourne pada Rabu malam waktu setempat. Sinyal kebijakan yang lebih hawkish berpotensi memperkuat reli dolar Australia lebih lanjut.

Selanjutnya: 6 Anime Adaptasi Manga Ini Siap Hibur Puasa Anda, Tonton di Netflix

Menarik Dibaca: 6 Anime Adaptasi Manga Ini Siap Hibur Puasa Anda, Tonton di Netflix




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×