kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.893   -1,00   -0,01%
  • IDX 7.961   -56,27   -0,70%
  • KOMPAS100 1.117   -8,38   -0,74%
  • LQ45 810   -2,68   -0,33%
  • ISSI 283   -2,95   -1,03%
  • IDX30 428   -0,60   -0,14%
  • IDXHIDIV20 521   3,72   0,72%
  • IDX80 125   -0,74   -0,59%
  • IDXV30 141   0,41   0,29%
  • IDXQ30 138   0,42   0,30%

Dolar Rengkuh Kembali Posisi sebagai Aset Safe Haven, Ini Buktinya


Selasa, 03 Maret 2026 / 06:42 WIB
Dolar Rengkuh Kembali Posisi sebagai Aset Safe Haven, Ini Buktinya


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat kembali menguat tajam setelah serangan militer AS ke Iran memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penguatan ini memberi sinyal kepada investor bahwa dolar masih berfungsi sebagai aset safe haven global ketika ketidakpastian meningkat.

Penguatan dolar terjadi setelah beberapa bulan muncul keraguan terhadap perannya sebagai aset lindung nilai saat krisis. Keraguan itu muncul ketika dolar gagal menguat selama aksi jual pasar global tahun lalu yang dipicu oleh kebijakan tarif perdagangan AS.

Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, pada Senin, dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang utama dunia. Indeks dolar bahkan naik hampir 1%, mencatat kenaikan harian terbesar dalam tujuh bulan terakhir.

Strategis valuta asing di Scotiabank, Eric Theoret, mengatakan kondisi pasar saat ini mencerminkan sentimen risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar.

Ia juga menyinggung peristiwa yang disebut “Liberation Day” pada 2 April 2025, ketika pemerintah AS mengumumkan tarif besar-besaran yang memicu aksi jual pasar global, termasuk terhadap dolar.

Baca Juga: Perang Iran Tak Ada Tanda-Tanda Mereda, Merek Mewah Global Pilih Tutup Toko

Dalam beberapa bulan terakhir, status dolar sebagai safe haven memang sempat ditantang oleh mata uang lain seperti euro, yen Jepang, serta emas.

Namun menurut analis, kekuatan dolar masih didukung oleh kedalaman dan likuiditas pasar keuangan Amerika Serikat. Pasar obligasi pemerintah AS tetap menjadi tempat utama investor global memarkir dana dalam jumlah besar saat krisis.

“Jika investor ingin mengurangi risiko dalam skala besar, pasar obligasi pemerintah AS adalah satu-satunya pasar yang cukup dalam untuk menampung arus dana tersebut,” kata Theoret.

Lonjakan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar.

Chief Investment Officer di Mercer Advisors, Don Calcagni, mengatakan kurangnya alternatif global membuat investor tetap kembali ke dolar saat volatilitas meningkat.

“Saya tidak terlalu terkejut jika dolar masih menunjukkan performa sebagai aset safe haven,” ujarnya.

Baca Juga: Selat Hormuz Resmi Ditutup, Ini Konsekuensi Jika Ada Kapal yang Berani Melintasinya

Analis juga menilai kegagalan dolar menjadi aset lindung nilai pada krisis tahun lalu disebabkan karena sumber ketidakpastian berasal dari Amerika Serikat sendiri, yaitu kebijakan tarif perdagangan Washington.

Peneliti di Macro Hive, Benjamin Ford, mengatakan saat itu investor lebih memilih aset di luar Amerika Serikat karena ketidakpastian justru datang dari kebijakan ekonomi AS.

Namun ketika krisis berasal dari konflik geopolitik internasional, seperti ketegangan di Timur Tengah, daya tarik dolar sebagai safe haven cenderung kembali muncul.

Pandangan serupa disampaikan oleh ahli strategi makro Amerika di BNY, John Velis, yang menilai bukti terbaru menunjukkan dolar masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai global.

Meski demikian, sebagian analis menilai perdebatan mengenai kekuatan dolar sebagai safe haven belum sepenuhnya selesai.

Head of FX Strategy di Rabobank, Jane Foley, mengatakan penguatan dolar saat ini memang memberikan keyakinan bahwa karakter safe haven masih ada, namun masa depannya tetap menjadi perdebatan.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga didukung status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, yang membuat ekonominya relatif lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak dibanding negara importir energi.

Tonton: Ini Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Perdagangan Indonesia

Namun manajer portofolio di State Street Global Advisors, Aaron Hurd, menilai dolar mungkin tidak akan selalu sekuat ini jika guncangan ekonomi tidak terkait dengan energi atau masalah likuiditas pasar.

Dalam jangka pendek, arah dolar juga diperkirakan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak.

Menurut Ford dari Macro Hive, jika harga minyak terus naik dan selera risiko investor menurun, dolar kemungkinan akan tetap menguat.

Namun jika harga minyak turun, investor mungkin kembali beralih ke aset safe haven tradisional lainnya seperti franc Swiss dan yen Jepang.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×