kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Dolar Rengkuh Kembali Posisi sebagai Aset Safe Haven, Ini Buktinya


Selasa, 03 Maret 2026 / 06:42 WIB
Dolar Rengkuh Kembali Posisi sebagai Aset Safe Haven, Ini Buktinya
ILUSTRASI. Dolar Amerika Serikat kembali menguat tajam setelah serangan militer AS ke Iran memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Analis juga menilai kegagalan dolar menjadi aset lindung nilai pada krisis tahun lalu disebabkan karena sumber ketidakpastian berasal dari Amerika Serikat sendiri, yaitu kebijakan tarif perdagangan Washington.

Peneliti di Macro Hive, Benjamin Ford, mengatakan saat itu investor lebih memilih aset di luar Amerika Serikat karena ketidakpastian justru datang dari kebijakan ekonomi AS.

Namun ketika krisis berasal dari konflik geopolitik internasional, seperti ketegangan di Timur Tengah, daya tarik dolar sebagai safe haven cenderung kembali muncul.

Pandangan serupa disampaikan oleh ahli strategi makro Amerika di BNY, John Velis, yang menilai bukti terbaru menunjukkan dolar masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai global.

Meski demikian, sebagian analis menilai perdebatan mengenai kekuatan dolar sebagai safe haven belum sepenuhnya selesai.

Head of FX Strategy di Rabobank, Jane Foley, mengatakan penguatan dolar saat ini memang memberikan keyakinan bahwa karakter safe haven masih ada, namun masa depannya tetap menjadi perdebatan.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga didukung status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, yang membuat ekonominya relatif lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak dibanding negara importir energi.

Tonton: Ini Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Perdagangan Indonesia

Namun manajer portofolio di State Street Global Advisors, Aaron Hurd, menilai dolar mungkin tidak akan selalu sekuat ini jika guncangan ekonomi tidak terkait dengan energi atau masalah likuiditas pasar.

Dalam jangka pendek, arah dolar juga diperkirakan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak.

Menurut Ford dari Macro Hive, jika harga minyak terus naik dan selera risiko investor menurun, dolar kemungkinan akan tetap menguat.

Namun jika harga minyak turun, investor mungkin kembali beralih ke aset safe haven tradisional lainnya seperti franc Swiss dan yen Jepang.


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×