Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Setelah pada pidato Selasa (26/1) dini hari tadi Mario Draghi, Gubernur European Central Bank (ECB) memberi sinyal pelonggaran stimulus lanjutan yang menekan euro. Ia pun menyatakan siap melakukan beragam cara untuk menggenjot perekonomian Eropa.
Meski hingga kini, ECB tidak menjabarkan instrumen atau dengan cara apa yang akan digunakannya untuk menggenjot ekonomi. Draghi bersuara lagi setelah kritikan yang menghadangnya akibat pernyataan itu.
“Mengejar target inflasi menjadi salah satu cara ECB untuk menunjukkan kredibilitas akan setiap target yang sudah ditentukannya. Bukan karena target tersebut masih jauh dari harapan lantas target tersebut bisa diubah secara tiba-tiba,” kata Draghi seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (26/1).
Sejak tahun 2013 lalu memang ECB belum berhasil mencapai target inflasinya di level 2%. Pada pertemuan ECB Desember 2015 lalu, pejabat ECB menetapkan target inflasi di 2016 rata-rata mencapai 1% dan di tahun 2017 meningkat lagi menjadi rata-rata 1,6%.
Ekonom JPMorgan Chase & Co dan Royal Bank of Scotland Group Plc memprediksi akan ada tambahan stimulus dalam periode Maret hingga Juni 2016 mendatang.
“Euro memang masih sulit bangkit berkaca dari ekonominya yang jauh dari target,” kata Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures.
Tekanan ini membuat mata uang EUR diprediksi masih dalam balutan tren bearish untuk beberapa waktu ke depan.
Tentunya pertambahan stimulus memang baik bagi suatu perekonomian di jangka panjang. “Tapi jangka pendek jelas itu menekan mata uang,” tutur Wahyu.













