Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz semakin meningkat setelah dua kapal kargo dilaporkan tenggelam dalam insiden terpisah dalam kurun waktu 24 jam. Kedua kapal tersebut dilaporkan terkena proyektil, menurut keterangan pejabat maritim pada Rabu (14/10/2026).
Serangan di sekitar jalur strategis tersebut meningkat dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan akan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhannya serta pengetatan sanksi yang diberlakukan pada bulan lalu.
Kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, menjadi salah satu kapal yang tenggelam saat melintasi Selat Hormuz. Kapal berukuran kecil tersebut memiliki kapasitas 2.824 unit setara kontainer berukuran 20 kaki (TEU).
Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (Maritime and Port Authority of Singapore/MPA) menyatakan kapal tersebut mengalami kerusakan sebelum terbakar dan akhirnya tenggelam.
“GFS PRIDE mengalami kerusakan dan kebakaran di kapal, dan sejak itu telah tenggelam. Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat. Tidak ada korban luka yang dilaporkan,” kata MPA dalam pernyataannya pada Rabu.
Baca Juga: Netflix PHK 1.000 Karyawan, Terbesar Sejak 2022 di Tengah Persaingan Streaming
MPA menambahkan, kapal tersebut sedang melintasi Selat Hormuz pada Selasa.
Dalam insiden terpisah, kapal pengangkut curah kering atau dry bulk carrier Cape Dao yang berbendera Antigua dan Barbuda juga tenggelam di dekat Selat Hormuz. Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO), kapal tersebut tenggelam beberapa pekan setelah terkena proyektil pada 23 September.
Sumber-sumber maritim menyebutkan satu awak kapal tewas dalam insiden tersebut. Sementara itu, awak kapal lainnya telah dievakuasi segera setelah serangan terjadi.
Perusahaan pengelola kapal yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA), Peonies Shipmanagement FZE, belum dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar.
Berdasarkan analisis data kecelakaan kapal IMO, GFS Pride dan Cape Dao menjadi kapal kedua dan ketiga yang tenggelam sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
MPA menyampaikan keprihatinan mendalam atas berlanjutnya serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
“MPA sangat prihatin dengan serangan yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz,” kata otoritas tersebut.
“Serangan semacam itu tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan merupakan pelanggaran hukum internasional.”
Pengelola GFS Pride yang berbasis di UEA, GFS Ship Management FZE, juga belum dapat segera dihubungi untuk memberikan tanggapan.
Perusahaan manajemen risiko maritim MARISKS menilai insiden terbaru tersebut mempertegas bahwa ancaman terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz masih terus berlangsung.
Baca Juga: 32 Klub Inggris Hadapi Risiko Bangkrut, Mayoritas Tak Mampu Bertahan 90 Hari
“Insiden terbaru ini menegaskan bahwa ancaman terhadap pelayaran komersial yang melintasi Selat Hormuz masih terus berlangsung,” kata MARISKS pada Rabu.
“Ancaman tersebut tidak terbatas pada kapal tanker. Kapal kontainer dan kapal pengangkut curah juga mengalami kerusakan serius.”
Iran Perketat Kendali atas Selat Hormuz
Peningkatan tajam ancaman terhadap pelayaran komersial di dalam dan sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perairan tersebut.
Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Posisi strategis ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu jalur penting bagi distribusi energi global.
Teheran berupaya memperketat kendali atas jalur tersebut sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran membatasi lalu lintas pelayaran untuk meningkatkan daya tawar dalam menghadapi Washington.
Dua pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran semakin mengandalkan taktik baru untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah tersebut disebut bertujuan mempertahankan harga minyak pada level tinggi sekaligus memengaruhi pemilihan paruh waktu AS.
Baca Juga: FIFA Janji Guyur Dana Rp448 Miliar ke Anggota, Strategi Infantino Cari Dukungan?
Meski Iran dan AS selama ini memusatkan serangan terhadap kapal tanker, ancaman juga meluas ke kapal pengangkut barang dan kapal kontainer. Sejumlah kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan, tidak dapat beroperasi, hingga tenggelam.
Pada Maret 2026, kapal kontainer Safeen Prestige yang berbendera Malta terkena proyektil dan kemudian tenggelam di sebelah utara Selat Hormuz.
Selanjutnya, pada April 2026, Garda Revolusi Iran menyerang dan menyita kapal kontainer MSC Francesca.
Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko keamanan di Selat Hormuz tidak hanya mengancam pengangkutan minyak dan gas, tetapi juga perdagangan barang melalui jalur laut internasional. Peningkatan serangan terhadap berbagai jenis kapal berpotensi menambah ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran yang beroperasi di kawasan tersebut.














