Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu (15/7/2026) menurun, sehari setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di tengah meningkatnya serangan antara kedua negara di kawasan Teluk.
Berdasarkan data Kpler, hanya sembilan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu, sebagian besar melalui jalur pelayaran Iran. Jumlah tersebut turun dibandingkan 13 kapal yang tercatat melintas pada hari sebelumnya.
Data tersebut juga menunjukkan tidak ada kapal tanker minyak berkapasitas sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) maupun kapal pengangkut gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang terlihat melintasi selat tersebut pada Rabu.
Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) pada Rabu menyatakan telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang berupaya berlayar menuju Pulau Kharg di Iran setelah kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan.
Baca Juga: Saham Korea Selatan Tekan Bursa Asia, Aksi Jual Saham Chip Picu Volatilitas Pasar
Militer AS menyebut pihaknya menembakkan rudal Hellfire ke cerobong asap kapal tersebut. Kapal tanker VLCC Belma berbendera Curacao itu dipastikan tidak lagi melanjutkan pelayaran menuju Iran.
Sejak kembali menerapkan blokade laut terhadap Iran pada Selasa (14/7/2026), militer AS menyatakan telah mengalihkan rute dua kapal dan melumpuhkan satu kapal lainnya.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Iran pada Sabtu (11/7/2026) malam menyatakan telah menutup Selat Hormuz. Operasi militer yang berlangsung membuat aktivitas pelayaran di jalur perairan strategis tersebut terganggu.
Sebelum konflik memanas, Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Pada Rabu, terdapat lima kapal kosong yang memasuki kawasan Teluk, terdiri dari tiga kapal tanker minyak berukuran kecil dan dua kapal pengangkut curah kering yang membawa gandum.
Baca Juga: Iran Sebut Selat Hormuz Garis Merah, Ancam Serang Kawasan Jika AS Menyerang
Sementara itu, empat kapal yang keluar dari Selat Hormuz pada hari yang sama diketahui mengangkut gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG), batu bara, bahan bakar minyak, dan pupuk.
Data Kpler juga menunjukkan bahwa pada Selasa (14/7/2026), sebuah kapal tanker jenis Suezmax yang membawa 1 juta barel minyak mentah Arab Saudi keluar dari Selat Hormuz dengan transponder atau perangkat pelacaknya dalam kondisi nonaktif.
Penurunan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz mencerminkan meningkatnya risiko keamanan di salah satu jalur energi terpenting di dunia. Konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu distribusi energi global dan memicu volatilitas harga minyak internasional.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
