Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – SINGAPURA. Jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz tercatat meningkat pada Selasa (14/7/2026), sehari sebelum blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran mulai diberlakukan pada Rabu (15/7/2026). Data pelayaran menunjukkan mayoritas kapal yang melintas memiliki keterkaitan dengan perdagangan Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Selain itu, Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Kebijakan tersebut menjadi eskalasi terbaru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas.
Berdasarkan data pelacakan kapal dari Kpler, sembilan dari total 11 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa menggunakan jalur pelayaran Iran.
Dari jumlah tersebut, tiga kapal tanker minyak kosong memasuki selat, terdiri atas satu kapal tanker berukuran Aframax dan dua kapal tanker raksasa Very Large Crude Carrier (VLCC).
Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh 4,3% pada Kuartal II-2026, di Bawah Ekspektasi
Sementara itu, kapal-kapal yang keluar dari Selat Hormuz membawa berbagai komoditas ekspor Iran. Di antaranya adalah satu VLCC yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah, satu kapal tanker berukuran menengah yang membawa produk olahan minyak, serta dua kapal tanker yang mengangkut gas petroleum cair atau liquefied petroleum gas (LPG).
Data yang sama juga menunjukkan satu kapal tanker bermuatan metanol dan satu kapal kargo curah yang mengangkut bijih besi turut meninggalkan kawasan Teluk Persia pada Selasa.
Di sisi lain, tidak terlihat adanya kapal tanker yang masuk maupun keluar untuk memuat minyak dan gas dari produsen lain di kawasan Teluk pada hari yang sama.
Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu perlambatan tajam lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari sebelum perang pecah pada Februari lalu.
Pemerintah Amerika Serikat pada Selasa malam menyatakan Iran telah menyerang tujuh kapal komersial selama sepekan terakhir. Serangan tersebut menyebabkan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau mengalami luka-luka.
Baca Juga: AS Blokade Kembali Pelabuhan Iran, Trump Ancam Serang Infrastruktur Energi
Serangkaian serangan terhadap kapal tanker raksasa milik Uni Emirat Arab juga mendorong penguatan harga minyak mentah spot dari Timur Tengah pada pekan ini. Harga kontrak pengiriman bulan terdekat kini berada di atas harga kontrak untuk pengiriman di masa mendatang, yang mengindikasikan pasokan semakin ketat.
Analis Goldman Sachs menilai proses pemulihan arus perdagangan energi di kawasan Teluk berpotensi berlangsung lebih lambat, bahkan setelah ketegangan geopolitik mereda.
"Fase berikutnya dari pemulihan arus perdagangan di kawasan Teluk berpotensi berjalan lebih lambat dibandingkan fase awal, bahkan setelah terjadi penurunan ketegangan geopolitik," tulis Goldman Sachs dalam catatannya pada Rabu (15/7/2026).
Para analis Goldman Sachs menyoroti penurunan tajam arus pelayaran melalui jalur Oman dan rute internasional setelah serangan terhadap kapal tanker dalam beberapa waktu terakhir.
Mereka menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa "perusahaan pelayaran yang menggunakan jalur Selat Hormuz non-Iran masih bersikap sangat berhati-hati terhadap risiko yang ada."














