kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.145   31,00   0,18%
  • IDX 7.449   -9,50   -0,13%
  • KOMPAS100 1.028   -1,46   -0,14%
  • LQ45 742   -4,65   -0,62%
  • ISSI 269   -0,02   -0,01%
  • IDX30 398   -2,26   -0,57%
  • IDXHIDIV20 486   -4,43   -0,90%
  • IDX80 115   -0,45   -0,39%
  • IDXV30 135   -0,46   -0,34%
  • IDXQ30 128   -1,25   -0,97%

Blokade AS terhadap Iran Berisiko Picu Eskalasi Militer Baru


Senin, 13 April 2026 / 08:26 WIB
Blokade AS terhadap Iran Berisiko Picu Eskalasi Militer Baru
ILUSTRASI. Krisis Iran vs AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Rencana Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Iran dinilai sebagai operasi militer besar yang berpotensi memicu aksi balasan dari Teheran dan menekan gencatan senjata yang sudah rapuh, menurut para analis.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade seluruh kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, setelah perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.

Baca Juga: Kapal Tanker Hindari Selat Hormuz Jelang Blokade AS

Namun, United States Central Command (CENTCOM) kemudian menyatakan bahwa blokade hanya berlaku untuk kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Melansir Reuters, operasi ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 10.00 waktu Washington (14.00 GMT).

Trump juga menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya kepada Iran tetap bisa menjadi target, bahkan jika berada di perairan internasional.

Langkah ini bertujuan menekan Iran agar menghentikan pembatasan akses di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Meski demikian, para ahli menilai blokade tersebut pada dasarnya merupakan tindakan perang yang membutuhkan komitmen besar dalam jangka panjang.

“Ini bukan solusi cepat. Operasi seperti ini sulit dijalankan sendiri dan berpotensi tidak berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Dana Stroul, mantan pejabat senior Pentagon.

Baca Juga: Trump Blokade Selat Hormuz, Jalur Utama Ekspor Minyak Iran Terancam Terputus

Risiko Balasan dari Iran

Sejauh ini, militer AS belum merinci jumlah kapal perang yang akan dikerahkan atau apakah akan melibatkan pesawat tempur serta dukungan sekutu di kawasan Teluk.

Analis menilai, dengan kekuatan armada yang cukup, AS memang dapat menghalangi kapal tanker yang mengangkut minyak Iran.

Namun, muncul pertanyaan krusial: apakah AS siap menyita atau bahkan menenggelamkan kapal yang melanggar blokade, termasuk jika membawa minyak untuk negara besar seperti China atau mitra strategis seperti India dan Korea Selatan?

Laksamana purnawirawan Gary Roughead memperingatkan bahwa Iran berpotensi merespons dengan menyerang kapal di Teluk atau infrastruktur energi negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS.

“Saya yakin Iran akan memberikan respons jika ini benar-benar dilakukan,” ujarnya.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, ancaman terhadap jalur pelayaran telah mendorong harga minyak global melonjak sekitar 50%.

Baca Juga: Paus Leo Mulai Tur Afrika 10 Hari, Soroti Kebutuhan Benua

Tekanan Politik dan Harga Energi

Trump sendiri mengakui bahwa harga minyak dan bahan bakar kemungkinan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu di AS pada November mendatang. Kondisi ini berisiko menekan dukungan publik terhadap pemerintahannya.

Di sisi lain, sejumlah politisi AS mempertanyakan efektivitas strategi tersebut. Senator Mark Warner menilai Iran masih bisa mengganggu jalur pelayaran dengan kapal cepat atau ranjau laut.

“Bagaimana langkah ini bisa menurunkan harga bahan bakar?” ujarnya.

Trump juga membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer ke wilayah Iran, termasuk menargetkan fasilitas produksi rudal.

Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Gagalnya Negosiasi, Blokade Pelabuhan Iran Mulai Berlaku

Ancaman Eskalasi Konflik

Meski serangan militer AS dan sekutunya telah melemahkan kekuatan Iran, analis menilai Teheran tetap menjadi tantangan besar dengan kepemimpinan yang semakin keras dan cadangan uranium yang signifikan.

Trump memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal AS atau kapal sipil akan dibalas keras.

Sebaliknya, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa kehadiran kapal militer di sekitar Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak tegas.

Para ahli menilai, krisis ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui tekanan militer.

“Dalam jangka panjang, solusi tetap harus melalui diplomasi dan kemauan politik internasional,” kata Stroul.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×