Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam sepekan pada awal perdagangan Asia, Senin (13/4/2026), seiring meningkatnya sentimen risk-off setelah negosiasi damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Penguatan dolar juga dipicu rencana militer AS untuk memulai blokade terhadap pelabuhan Iran, yang meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$100 Senin (13/4) Pagi, Lonjakan 8% Dipicu Blokade Hormuz
Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik hingga 0,5% ke level 99,187. Angka ini merupakan posisi tertinggi sejak 7 April lalu.
Di sisi lain, mata uang utama lainnya melemah terhadap dolar. Euro turun 0,5% ke level US$ 1,1667, sementara poundsterling Inggris terkoreksi 0,6% ke US$ 1,3383.
Mata uang berbasis komoditas juga tertekan, dengan dolar Australia melemah 0,8% ke US$ 0,7014 dan dolar Selandia Baru turun 0,7% ke US$ 0,5798.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4) menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memberlakukan blokade di Selat Hormuz setelah pembicaraan panjang dengan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Langkah tersebut berpotensi mengganggu gencatan senjata sementara yang baru berlangsung dua pekan.
Baca Juga: AS-Iran Gagal Damai, Dolar Melonjak dan Pasar Global Kian Bergejolak
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyebutkan bahwa implementasi blokade akan dimulai pukul 10.00 waktu setempat (14.00 GMT) pada Senin, dengan sasaran seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Analis Westpac dalam catatannya menyebut, kondisi pasar valuta asing pada awal perdagangan menunjukkan sentimen penghindaran risiko (risk-off).
“Perdagangan yang masih tipis di awal sesi Asia mencerminkan suasana risk-off, dengan penguatan dolar AS secara luas sebagai respons,” tulis mereka.













