Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada awal perdagangan Asia, Senin (12/4/2026), seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah perundingan damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Melansir Reuters, penguatan dolar dipicu meningkatnya ketidakpastian global, yang kini memasuki pekan ketujuh sejak konflik memanas.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS.
Baca Juga: Israel Tunjuk Roman Gofman sebagai Kepala Mossad Baru
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global.
Penutupan jalur ini oleh Iran sejak awal konflik telah mendorong harga minyak melonjak lebih dari 30% dan memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global.
Di pasar valuta asing, euro tercatat melemah 0,53% ke level US$ 1,1663, sementara dolar AS juga menguat 0,1% terhadap yen Jepang ke level 159,43.
Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS turun lebih dari 1% pada perdagangan akhir pekan, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik.
Sebelumnya, pasar sempat optimistis setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran pada 7 April.
Baca Juga: UPDATE: Militer AS Bakal Blokade Total Selat Hormuz Mulai Hari Ini (13/4/2026)
Sentimen tersebut mendorong indeks S&P 500 pulih dan memangkas hampir seluruh kerugian sejak awal konflik.
Namun, rapuhnya kesepakatan tersebut membuat investor kembali menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke dolar serta minyak.
Analis senior City Index Fiona Cincotta mengatakan, pasar saat ini tengah mengalami pembalikan sentimen secara cepat.
“Optimisme menjelang perundingan damai kini berbalik menjadi aksi berburu aset aman seperti dolar, sementara harga minyak melonjak dan aset lain tertekan,” ujarnya.
Mata uang berisiko seperti dolar Australia dan poundsterling turut tertekan, masing-masing turun 1,1% dan 0,5%.
Baca Juga: AS Blokade Kapal ke Pelabuhan Iran, Ketegangan Hormuz Kian Meningkat
Seiring meningkatnya ekspektasi inflasi, pelaku pasar mulai memperkirakan bank sentral global seperti European Central Bank dan Bank of England berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini, berbanding terbalik dengan ekspektasi sebelum konflik yang memperkirakan suku bunga tetap atau turun.
Sementara itu, pasar saham global yang sempat menguat pekan lalu masih berada sekitar 2% di bawah level sebelum perang pecah.
Menariknya, harga emas justru turun sekitar 10% sejak akhir Februari, karena investor saat ini lebih memilih dolar sebagai aset lindung nilai utama.
Analis MST Marquee Saul Kavonic menilai, pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko baru dari potensi blokade AS terhadap aliran minyak terkait Iran.
Baca Juga: Trump: Harga BBM AS Bisa Tetap Tinggi hingga Pemilu Paruh Waktu
“Pertanyaan utama saat ini adalah apakah AS akan kembali melancarkan serangan ke Iran, yang dapat memperluas dampak terhadap infrastruktur energi kawasan,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, Trump juga mengakui harga minyak dan bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November mendatang, menandakan dampak ekonomi konflik yang masih akan berlanjut.













