Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui harga minyak dan bensin berpotensi tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu (midterm) pada November mendatang.
Pernyataan ini menjadi sinyal dampak politik dari konflik dengan Iran yang telah berlangsung sekitar enam pekan.
Baca Juga: Orban Lengser! Pemilu Hungaria Guncang Eropa, Apa Kata Pemimpin Dunia?
Dalam wawancara dengan Fox News yang dilansir Reuters Minggu (12/4/2026), Trump mengatakan harga energi kemungkinan tidak banyak berubah dalam beberapa bulan ke depan.
“Bisa saja tetap sama atau sedikit lebih tinggi, tapi seharusnya masih di kisaran sekarang,” ujarnya.
Data GasBuddy menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di AS telah melampaui US$ 4 per galon sepanjang April.
Angka ini melonjak dibandingkan Februari yang masih di bawah US$ 3 per galon, dan sepanjang tahun lalu yang tidak pernah menembus US$ 3,25 per galon.
Sebelumnya, Trump kerap menyebut lonjakan harga energi hanya bersifat sementara. Namun, pernyataan terbaru ini menunjukkan pemerintah mulai mengakui dampak ekonomi perang yang lebih berkepanjangan.
Baca Juga: Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga
Blokade Hormuz Tambah Ketidakpastian
Pada hari yang sama, Trump juga mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS. Langkah ini ditujukan untuk mencegah kapal yang membayar biaya transit kepada Iran melintas.
Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian menegaskan bahwa blokade hanya akan berlaku bagi kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, sementara kapal dari negara lain tetap diperbolehkan melintas.
Langkah ini berpotensi memperbesar ketidakpastian pasar energi global. Sebelumnya, Iran telah membatasi jalur pelayaran di Selat Hormuz jalur vital perdagangan minyak dunia yang memicu lonjakan harga minyak hingga sekitar 50%.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa kebijakan tersebut justru dapat mendorong harga bensin di AS semakin tinggi.
Baca Juga: Perundingan AS-Iran Buntu, Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz!
Tekanan Politik Meningkat
Perang yang dimulai pada 28 Februari melalui serangan gabungan AS dan Israel ke Iran telah meluas ke kawasan, termasuk Lebanon.
Konflik ini tidak hanya mengguncang pasar keuangan global, tetapi juga menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Di dalam negeri, popularitas Trump dilaporkan menurun. Kenaikan harga energi dan dampak ekonomi perang memicu ketidakpuasan publik, meningkatkan risiko Partai Republik kehilangan kendali Kongres dalam pemilu mendatang.
Jika Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas, agenda legislatif Trump berpotensi terhambat dan pemerintahannya bisa menghadapi berbagai penyelidikan politik.
Baca Juga: IMF dan Bank Dunia Waspadai Dampak Perang Iran, Ekonomi Global Tertekan
Senator Demokrat Mark Warner mengkritik rencana blokade tersebut dan mempertanyakan efektivitasnya dalam menekan Iran maupun menurunkan harga energi.
Sementara itu, Senator Republik Ron Johnson mengingatkan bahwa konflik ini kemungkinan akan berlangsung lama dan tidak mudah diselesaikan.
Dengan gencatan senjata yang masih rapuh dan ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, prospek harga energi global termasuk di AS diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.













