kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga


Senin, 13 April 2026 / 04:05 WIB
Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga
ILUSTRASI. Setelah 16 tahun berkuasa, Viktor Orban kalah dalam pemilu Hungaria. Kekalahan ini mengakhiri era 'demokrasi illiberal'. (Johanna Geron/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, tokoh utama yang selama ini menjadi salah satu penentang upaya Uni Eropa untuk membantu Ukraina menghadapi invasi Rusia, kehilangan kekuasaan setelah 16 tahun pada hari Minggu. Hal ini terjadi setelah warga Hungaria memberikan suara dalam jumlah rekor untuk memilih arah baru yang lebih pro-Uni Eropa, yang dipimpin rival kanan-tengahnya, Peter Magyar.

Melansir Reuters, Orban (62 tahun) sebelumnya memperoleh dukungan dari Presiden AS Donald Trump serta sejumlah tokoh konservatif terkemuka Eropa. Namun hasil awal menunjukkan Partai Fidesz yang nasionalis pimpinan Orban kalah dari Partai Tisza pimpinan Peter Magyar yang pro-Uni Eropa, akibat stagnasi ekonomi Hungaria yang melemahkan peluang Orban untuk terpilih kembali.

Orban, yang dikenal sebagai pemimpin muda anti-komunis yang berapi-api pada masa Perang Dingin, merupakan pemimpin terlama di Uni Eropa. Ia dipandang sebagai pahlawan patriotik oleh para pendukungnya. Namun para pengkritiknya, baik di dalam maupun luar negeri, menuduh Orban membawa Hungaria menuju jalur otoritarianisme.

Lahir pada tahun 1963 di sebuah desa di barat Budapest, Orban menempuh pendidikan hukum, sempat belajar filsafat politik di Oxford, dan bahkan pernah bermain sepak bola semi-profesional sebelum menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya pada tahun 1998, saat berusia 35 tahun.

Hungaria bergabung dengan NATO saat Orban berkuasa, namun ia kalah dalam pemilu tahun 2002. Setelah delapan tahun berada di oposisi, ia meraih kemenangan telak pada 2010, yang memungkinkan dirinya menulis ulang konstitusi Hungaria dan mengesahkan berbagai undang-undang besar untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai “demokrasi illiberal”.

Baca Juga: Viktor Orban Terancam Kalah dalam Pemilu Hungaria, Rusia Kehilangan Sekutu?

Konsolidasi kekuasaan eksekutif yang ia lakukan, pembatasan baru terhadap aktivitas LSM dan kebebasan media, serta melemahnya independensi lembaga peradilan memicu konflik dengan Uni Eropa terkait standar demokrasi. Konflik itu mencapai puncaknya ketika Uni Eropa memutuskan untuk menangguhkan pendanaan bernilai miliaran euro untuk Hungaria.

Namun semua itu runtuh pada Minggu malam, ketika hasil awal menunjukkan Magyar berpeluang meraih mayoritas super di parlemen, yang memungkinkan partai kanan-tengahnya membatalkan seluruh reformasi kontroversial Orban.

“Apa arti hasil pemilu malam ini bagi masa depan negara dan bangsa kita, serta apa makna yang lebih dalam atau lebih tinggi dari semua ini, masih belum jelas. Kita belum mengetahuinya. Waktu yang akan menjawab,” kata Orban kepada para pendukungnya, sambil mengakui kekalahan.

“Namun apa pun hasilnya, kami akan tetap melayani negara dan bangsa Hungaria dari posisi oposisi,” jelasnya.

Baca Juga: Trump: Harga Minyak dan Bensin Masih Tetap Mahal hingga November 




TERBARU

[X]
×