kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga


Senin, 13 April 2026 / 04:05 WIB
Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga
ILUSTRASI. Setelah 16 tahun berkuasa, Viktor Orban kalah dalam pemilu Hungaria. Kekalahan ini mengakhiri era 'demokrasi illiberal'. (Johanna Geron/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Selama krisis migran Eropa pada 2015, Orban menampilkan dirinya sebagai penjaga identitas nasional Hungaria dan warisan Kristen, dengan menolak menerima kuota Uni Eropa untuk menampung pencari suaka, yang sebagian besar adalah Muslim dari Timur Tengah dan wilayah lain. Pemerintahannya secara bertahap juga mengambil langkah-langkah untuk melemahkan hak-hak LGBTQ+.

Sikap keras Orban terhadap imigrasi dan upayanya meningkatkan angka kelahiran Hungaria yang menurun membuatnya mendapat pujian dari para pemimpin konservatif lain, termasuk Trump.

Orban, yang juga menang telak dalam pemilu 2014, 2018, dan 2022, kali ini memperoleh dukungan dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Marine Le Pen dari Partai National Rally Prancis, serta Alice Weidel dari Alternative for Germany.

Trump juga memberikan dukungan kepada Orban, dengan mengatakan hubungan AS-Hungaria mencapai “tingkat baru” berkat kepemimpinan mereka, setelah bertahun-tahun ketegangan di bawah pemerintahan Demokrat di Washington.

Orban tetap menjaga hubungan dekat dengan Rusia, pemasok energi utama, serta China, yang perusahaan-perusahaannya membangun pabrik kendaraan listrik dan baterai besar di negara Eropa Tengah yang tidak memiliki akses laut itu.

Catatan saja, Hungaria mengalami lonjakan inflasi terburuk di Uni Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, yang mendorong harga pangan mendekati rata-rata Uni Eropa, sementara upah di Hungaria masih menjadi yang ketiga terendah di blok beranggotakan 27 negara itu.

Meski menerapkan kebijakan pro-keluarga yang cukup murah hati, termasuk pinjaman murah dan insentif pajak, Orban tampaknya kehilangan dukungan pemilih muda seiring pergeseran politiknya yang semakin ke kanan.

Jajak pendapat sebelum pemilu menunjukkan pemilih muda sangat menginginkan perubahan, sementara Orban bolak-balik antara mencoba merayu kelompok demografis penting tersebut dan mengejek perlawanan mereka terhadap kepemimpinannya sebagai “pemberontakan palsu”.

Tonton: China Diduga Kirim Senjata ke Iran, AS Bereaksi Keras! Konflik Makin Memanas

“Saya tahu anak muda suka melawan orang tua mereka dan ini bisa menimbulkan masalah politik,” kata Orban, yang merupakan ayah dari lima anak dan seorang kakek.

Meski menghadiri banyak rapat umum kampanye dan terus meluncurkan wawancara serta unggahan media sosial, Orban sempat menunjukkan sisi yang jarang terlihat akhir tahun lalu mengenai beban kampanye yang ia jalani setelah bertahun-tahun memimpin.

“Ketika saya menjadi tentara (menjalani wajib militer), mereka mengatakan kepada kami bahwa seorang tentara tidak boleh merasa dingin, ia hanya boleh menyadari adanya dingin,” katanya. “Saya sama. Saya tidak lelah. Hanya saja tenaga saya mulai habis.”




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×