kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.137   23,00   0,13%
  • IDX 7.359   -99,01   -1,33%
  • KOMPAS100 1.013   -16,22   -1,58%
  • LQ45 735   -11,31   -1,51%
  • ISSI 265   -3,19   -1,19%
  • IDX30 396   -4,62   -1,15%
  • IDXHIDIV20 485   -5,54   -1,13%
  • IDX80 114   -1,53   -1,32%
  • IDXV30 134   -0,86   -0,64%
  • IDXQ30 128   -1,84   -1,42%

Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga


Senin, 13 April 2026 / 04:05 WIB
Kejatuhan Viktor Orban: Pemimpin Terlama Uni Eropa Tumbang Tak Terduga
ILUSTRASI. Setelah 16 tahun berkuasa, Viktor Orban kalah dalam pemilu Hungaria. Kekalahan ini mengakhiri era 'demokrasi illiberal'. (Johanna Geron/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, tokoh utama yang selama ini menjadi salah satu penentang upaya Uni Eropa untuk membantu Ukraina menghadapi invasi Rusia, kehilangan kekuasaan setelah 16 tahun pada hari Minggu. Hal ini terjadi setelah warga Hungaria memberikan suara dalam jumlah rekor untuk memilih arah baru yang lebih pro-Uni Eropa, yang dipimpin rival kanan-tengahnya, Peter Magyar.

Melansir Reuters, Orban (62 tahun) sebelumnya memperoleh dukungan dari Presiden AS Donald Trump serta sejumlah tokoh konservatif terkemuka Eropa. Namun hasil awal menunjukkan Partai Fidesz yang nasionalis pimpinan Orban kalah dari Partai Tisza pimpinan Peter Magyar yang pro-Uni Eropa, akibat stagnasi ekonomi Hungaria yang melemahkan peluang Orban untuk terpilih kembali.

Orban, yang dikenal sebagai pemimpin muda anti-komunis yang berapi-api pada masa Perang Dingin, merupakan pemimpin terlama di Uni Eropa. Ia dipandang sebagai pahlawan patriotik oleh para pendukungnya. Namun para pengkritiknya, baik di dalam maupun luar negeri, menuduh Orban membawa Hungaria menuju jalur otoritarianisme.

Lahir pada tahun 1963 di sebuah desa di barat Budapest, Orban menempuh pendidikan hukum, sempat belajar filsafat politik di Oxford, dan bahkan pernah bermain sepak bola semi-profesional sebelum menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya pada tahun 1998, saat berusia 35 tahun.

Hungaria bergabung dengan NATO saat Orban berkuasa, namun ia kalah dalam pemilu tahun 2002. Setelah delapan tahun berada di oposisi, ia meraih kemenangan telak pada 2010, yang memungkinkan dirinya menulis ulang konstitusi Hungaria dan mengesahkan berbagai undang-undang besar untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai “demokrasi illiberal”.

Baca Juga: Viktor Orban Terancam Kalah dalam Pemilu Hungaria, Rusia Kehilangan Sekutu?

Konsolidasi kekuasaan eksekutif yang ia lakukan, pembatasan baru terhadap aktivitas LSM dan kebebasan media, serta melemahnya independensi lembaga peradilan memicu konflik dengan Uni Eropa terkait standar demokrasi. Konflik itu mencapai puncaknya ketika Uni Eropa memutuskan untuk menangguhkan pendanaan bernilai miliaran euro untuk Hungaria.

Namun semua itu runtuh pada Minggu malam, ketika hasil awal menunjukkan Magyar berpeluang meraih mayoritas super di parlemen, yang memungkinkan partai kanan-tengahnya membatalkan seluruh reformasi kontroversial Orban.

“Apa arti hasil pemilu malam ini bagi masa depan negara dan bangsa kita, serta apa makna yang lebih dalam atau lebih tinggi dari semua ini, masih belum jelas. Kita belum mengetahuinya. Waktu yang akan menjawab,” kata Orban kepada para pendukungnya, sambil mengakui kekalahan.

“Namun apa pun hasilnya, kami akan tetap melayani negara dan bangsa Hungaria dari posisi oposisi,” jelasnya.

Baca Juga: Trump: Harga Minyak dan Bensin Masih Tetap Mahal hingga November 

Bergaul dengan Trump

Selama krisis migran Eropa pada 2015, Orban menampilkan dirinya sebagai penjaga identitas nasional Hungaria dan warisan Kristen, dengan menolak menerima kuota Uni Eropa untuk menampung pencari suaka, yang sebagian besar adalah Muslim dari Timur Tengah dan wilayah lain. Pemerintahannya secara bertahap juga mengambil langkah-langkah untuk melemahkan hak-hak LGBTQ+.

Sikap keras Orban terhadap imigrasi dan upayanya meningkatkan angka kelahiran Hungaria yang menurun membuatnya mendapat pujian dari para pemimpin konservatif lain, termasuk Trump.

Orban, yang juga menang telak dalam pemilu 2014, 2018, dan 2022, kali ini memperoleh dukungan dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Marine Le Pen dari Partai National Rally Prancis, serta Alice Weidel dari Alternative for Germany.

Trump juga memberikan dukungan kepada Orban, dengan mengatakan hubungan AS-Hungaria mencapai “tingkat baru” berkat kepemimpinan mereka, setelah bertahun-tahun ketegangan di bawah pemerintahan Demokrat di Washington.

Orban tetap menjaga hubungan dekat dengan Rusia, pemasok energi utama, serta China, yang perusahaan-perusahaannya membangun pabrik kendaraan listrik dan baterai besar di negara Eropa Tengah yang tidak memiliki akses laut itu.

Catatan saja, Hungaria mengalami lonjakan inflasi terburuk di Uni Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, yang mendorong harga pangan mendekati rata-rata Uni Eropa, sementara upah di Hungaria masih menjadi yang ketiga terendah di blok beranggotakan 27 negara itu.

Meski menerapkan kebijakan pro-keluarga yang cukup murah hati, termasuk pinjaman murah dan insentif pajak, Orban tampaknya kehilangan dukungan pemilih muda seiring pergeseran politiknya yang semakin ke kanan.

Jajak pendapat sebelum pemilu menunjukkan pemilih muda sangat menginginkan perubahan, sementara Orban bolak-balik antara mencoba merayu kelompok demografis penting tersebut dan mengejek perlawanan mereka terhadap kepemimpinannya sebagai “pemberontakan palsu”.

Tonton: China Diduga Kirim Senjata ke Iran, AS Bereaksi Keras! Konflik Makin Memanas

“Saya tahu anak muda suka melawan orang tua mereka dan ini bisa menimbulkan masalah politik,” kata Orban, yang merupakan ayah dari lima anak dan seorang kakek.

Meski menghadiri banyak rapat umum kampanye dan terus meluncurkan wawancara serta unggahan media sosial, Orban sempat menunjukkan sisi yang jarang terlihat akhir tahun lalu mengenai beban kampanye yang ia jalani setelah bertahun-tahun memimpin.

“Ketika saya menjadi tentara (menjalani wajib militer), mereka mengatakan kepada kami bahwa seorang tentara tidak boleh merasa dingin, ia hanya boleh menyadari adanya dingin,” katanya. “Saya sama. Saya tidak lelah. Hanya saja tenaga saya mulai habis.”




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×