Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) menyerang Iran dengan dalih ancaman yang direkayasa.
Moskow menilai langkah tersebut sebagai upaya terselubung untuk menggulingkan tatanan konstitusional Iran dan mengecam seruan agar rakyat Iran merebut kekuasaan dari para pemimpinnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan Washington menggunakan ancaman imajiner dari Iran sebagai pembenaran untuk menjalankan rencana lama perubahan rezim.
Baca Juga: Trump Terus Ancam Serang Iran, Tapi Pengamat Khawatirkan Efeknya Bagi AS
Menurut dia, negosiasi antara AS dan Iran yang bahkan masih berlangsung hingga pekan lalu dimanfaatkan sebagai kedok untuk menutupi rencana tersebut.
Rusia sendiri memiliki perjanjian kemitraan strategis dengan Iran. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengecam keras apa yang ia sebut sebagai pembunuhan sinis terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut tewas pada hari pertama perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada Sabtu lalu.
Zakharova menegaskan bahwa narasi ancaman Iran telah diulang selama bertahun-tahun untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap negara berdaulat yang tidak disukai Washington dan Tel Aviv.
Baca Juga: AS dan Iran Siap Menggelar Pembicaraan Nuklir di Jenewa, Ancaman Perang Membayangi
Ia juga menyindir seruan Barat agar rakyat Iran mengambil alih kekuasaan, yang menurutnya bertolak belakang dengan realitas serangan yang justru menghancurkan kehidupan masyarakat sipil.
Tanpa menyebut nama, Zakharova merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyerukan agar rakyat Iran merebut kekuasaan dari kepemimpinan ulama.
“Ancaman Iran itu direkayasa dan dijadikan dalih untuk menggulingkan tatanan konstitusional negara berdaulat,” kata Zakharova.
Baca Juga: Seorang Jenderal Senior Rusia Ditembak di Moskow, Rusia Tuduh Ukraina
Rusia menilai seruan semacam itu sebagai tindakan sinis dan tidak manusiawi, terutama di tengah situasi perang yang disebut telah membawa penderitaan besar bagi rakyat Iran.













