Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan air negara-negara Teluk jika Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menghantam jaringan listrik Iran dalam 48 jam.
Ancaman ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari menegaskan bahwa Teheran siap melakukan pembalasan terhadap target strategis di kawasan.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, serta fasilitas desalinasi air milik Amerika Serikat dan rezim di kawasan akan menjadi target,” ujarnya, seperti dikutip media pemerintah.
Baca Juga: Bos Saudi Aramco Batal Hadiri CERAWeek, Fokus Tangani Konflik Iran
Ketegangan meningkat setelah sirene serangan udara berbunyi di berbagai wilayah Israel pada Minggu dini hari, menyusul peluncuran rudal dari Iran.
Puluhan orang dilaporkan terluka dalam dua serangan terpisah di Arad dan Dimona. Militer Israel kemudian menyatakan telah melakukan serangan balasan ke Teheran.
Ultimatum Trump disampaikan pada Sabtu (21/3/2026) malam, hanya sehari setelah ia memberi sinyal kemungkinan meredakan konflik.
Namun, pergerakan pasukan marinir AS dan kapal pendarat berat ke kawasan menunjukkan kesiapan eskalasi militer.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf turut memperingatkan dampak luas jika fasilitas vital Iran diserang.
“Infrastruktur kritis dan fasilitas energi di Timur Tengah bisa hancur secara permanen jika pembangkit listrik Iran menjadi target,” tulisnya di platform X.
Baca Juga: Atasi Krisis BBM, Filipina Turunkan Standar Bahan Bakar ke Euro II untuk Sementara
Ancaman juga datang dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan akan menutup Selat Hormuz hingga fasilitas listrik Iran dipulihkan.
“Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka sampai pembangkit listrik kami yang hancur dibangun kembali,” demikian pernyataan mereka.
Penutupan jalur strategis tersebut yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia telah memicu gejolak pasar global.
Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, sementara harga gas di Eropa sempat naik hingga 35% pekan lalu.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai ultimatum Trump meningkatkan ketidakpastian pasar secara signifikan.
“Ancaman Presiden Trump kini menempatkan bom waktu ketidakpastian selama 48 jam di atas pasar,” ujarnya.
Baca Juga: Ekonomi Dunia Terancam Resesi: Konflik Iran-AS Picu Krisis Energi
Di sisi militer, Iran dilaporkan telah meluncurkan rudal balistik jarak jauh dengan jangkauan hingga 4.000 km, termasuk ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Samudra Hindia. Serangan lain juga disebut mendarat di dekat reaktor nuklir Israel di kawasan Dimona.
Konflik turut melibatkan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Militer Israel menyatakan operasi terhadap Iran dan Hezbollah akan terus berlanjut.
Juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan, pihaknya masih akan melanjutkan serangan.
“Kami memperkirakan beberapa pekan ke depan pertempuran melawan Iran dan Hezbollah akan terus berlangsung,” ujarnya.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas. Konflik ini telah mengguncang pasar global, memicu lonjakan harga energi, dan meningkatkan kekhawatiran inflasi dunia.













