Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Chief Executive Officer Saudi Aramco Amin Nasser membatalkan kehadirannya dalam konferensi energi internasional CERAWeek di Houston, Amerika Serikat (AS).
Keputusan ini diambil karena Nasser memilih tetap berada di Arab Saudi untuk menangani dampak konflik Iran yang kian memanas, menurut sumber industri kepada Reuters, Minggu (22/3).
Padahal, Nasser yang telah memimpin eksportir minyak terbesar dunia selama lebih dari satu dekade, biasanya menjadi salah satu pembicara utama dalam ajang tersebut.
Baca Juga: Atasi Krisis BBM, Filipina Turunkan Standar Bahan Bakar ke Euro II untuk Sementara
CERAWeek sendiri merupakan salah satu konferensi energi terbesar dunia yang mempertemukan eksekutif, pejabat pemerintah, hingga pembuat kebijakan global untuk membahas prospek pasar energi.
Pembatalan ini mencerminkan besarnya tantangan yang dihadapi Aramco di tengah konflik yang kini memasuki pekan keempat.
Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, mengguncang pasar global, serta memicu serangan balasan Iran yang berdampak pada infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia kian memperparah situasi.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika jalur tersebut tidak segera dibuka kembali.
Baca Juga: Ekonomi Dunia Terancam Resesi: Konflik Iran-AS Picu Krisis Energi
Eksekutif Energi Lain Ikut Absen
Tak hanya Aramco, CEO Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf Al-Sabah, juga dipastikan tidak hadir langsung dan hanya akan mengikuti sesi secara virtual dari Kuwait.
Sementara itu, sejumlah eksekutif energi dari kawasan Teluk, termasuk perwakilan dana kekayaan Abu Dhabi Mubadala, juga disebut kemungkinan besar absen dalam forum tersebut.
Infrastruktur Energi Jadi Target Serangan
Aramco saat ini menghadapi krisis terbesar sejak pandemi COVID-19 dan serangan terhadap fasilitas Abqaiq dan Khurais pada 2019 yang sempat melumpuhkan lebih dari setengah produksi minyak Saudi.
Dalam konferensi kinerja awal Maret, Nasser memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menimbulkan “konsekuensi katastrofik” bagi pasar minyak global.
Baca Juga: Laba Sinopec Anjlok 34%: Ini Penyebab Kerugian Raksasa Minyak China
Untuk mengantisipasi gangguan distribusi, Aramco kini mengalihkan pengiriman minyak dari pesisir timur ke pesisir barat melalui pipa, dengan pengapalan dilakukan dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu.
Namun, jalur alternatif tersebut juga sempat terganggu akibat serangan drone dan rudal di fasilitas energi sekitar wilayah tersebut.
Bahkan, kilang SAMREF yang merupakan usaha patungan Aramco dengan Exxon dilaporkan terkena serangan drone pada 19 Maret.
Di sisi lain, serangan Iran juga berdampak pada fasilitas energi di negara Teluk lainnya, termasuk kompleks LNG Ras Laffan di Qatar yang menyebabkan sekitar 17% kapasitas produksi gas alam cair negara tersebut terhenti hingga lima tahun ke depan.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik Iran tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas pasokan energi global.













