Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA- Situasi global makin tegang. Amerika Serikat dan Iran kini saling mengancam menyerang fasilitas energi—dan dampaknya bisa langsung terasa ke seluruh dunia. Harga minyak melonjak, pasar panik, dan risiko perang regional semakin luas. Apa yang sebenarnya terjadi?
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki fase paling berbahaya. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan “menghancurkan” fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Baca Juga: AS Mulai Cemas: Akhirnya Trump Izinkan Penjualan Minyak Iran 30 Hari
Ancaman ini langsung dibalas Iran. Teheran menyatakan siap menyerang infrastruktur milik AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi, teknologi, hingga instalasi air.
Situasi makin panas setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel. Sirene serangan udara berbunyi di berbagai kota sejak dini hari, termasuk di wilayah selatan seperti Arad dan Dimona. Puluhan orang dilaporkan terluka dalam dua serangan terpisah.
Sebagai balasan, militer Israel langsung menggempur Teheran hanya beberapa jam setelah serangan tersebut.
Tak hanya itu, konflik juga meluas ke Lebanon. Israel menyerang posisi Hizbullah dan menewaskan sejumlah pejuang, sementara kelompok tersebut membalas dengan serangan ke wilayah utara Israel.
Baca Juga: PM Takaici Temui Presiden Trump, Jepang Borong Minyak dari AS: Amankan Energi
Yang paling mengkhawatirkan, Iran kini mulai menggunakan rudal jarak jauh. Bahkan, dua rudal balistik dilaporkan ditembakkan ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia.
Di tengah eskalasi ini, Selat Hormuz menjadi titik krusial. Jalur ini mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan atau gangguan di wilayah ini langsung memicu lonjakan harga energi global.
Saat ini, selat tersebut praktis tertutup bagi kapal-kapal yang dianggap “musuh” oleh Iran. Meski beberapa kapal masih bisa melintas dengan koordinasi khusus, ketidakpastian membuat pasar global terguncang.
Harga minyak dunia bahkan sudah menyentuh level tertinggi dalam hampir empat tahun. Krisis ini disebut sebagai yang terburuk sejak era 1970-an.
Tonton: Prabowo Borong 16 KF-21 Boramae , Siap Masuk Produksi Massal 2026
Dampaknya tidak main-main. Kenaikan harga energi memicu inflasi global, menekan ekonomi, dan memperbesar risiko resesi di berbagai negara.
Di sisi politik, posisi Trump juga mulai tertekan. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan serangan militer ke Iran. Ini bisa menjadi beban besar menjelang pemilu Kongres.
Sementara itu, sekutu AS juga terlihat ragu. NATO dinilai tidak solid, dan beberapa negara menolak terlibat langsung dalam konflik yang dianggap dipicu sepihak oleh Washington.
Jika konflik ini terus meningkat, dunia bisa menghadapi krisis energi besar. Harga BBM berpotensi melonjak, biaya logistik naik, dan harga kebutuhan pokok ikut terdampak.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, efeknya bisa terasa langsung: mulai dari harga bahan bakar, tarif transportasi, hingga tekanan inflasi yang mempengaruhi daya beli masyarakat.













