Sumber: Bloomberg | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan memblokade Selat Hormuz setelah negosiasi damai dengan Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Langkah ini berpotensi memperparah kekurangan pasokan minyak dan bahan bakar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor energi dunia.
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di media sosial dilansir dari laman Bloomberg Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Paus Leo Mulai Tur Afrika 10 Hari, Soroti Kebutuhan Benua
Kebijakan ini secara efektif akan memutus jalur utama ekspor minyak Iran.
Negosiasi selama 21 jam antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan pejabat tinggi Iran, yang dimediasi Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung enam pekan.
Kegagalan tersebut membuat gencatan senjata yang baru disepakati pekan lalu menjadi tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati wilayah tersebut.
Blokade penuh akan semakin menekan pasar minyak global dengan membatasi sisa pengiriman yang masih berlangsung.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Gagalnya Negosiasi, Blokade Pelabuhan Iran Mulai Berlaku
Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi memutus sumber pendapatan utama Iran dari ekspor minyak, yang selama ini tetap berjalan relatif stabil meskipun konflik berlangsung dan justru diuntungkan oleh lonjakan harga minyak.
Harga minyak global telah naik sekitar 30% sejak konflik dimulai, bahkan beberapa kargo fisik diperdagangkan di atas US$ 140 per barel akibat terbatasnya pasokan.
Trump menyebut blokade ini pada akhirnya bertujuan untuk memulihkan arus pelayaran normal di Selat Hormuz.
“Ini soal semua atau tidak sama sekali. Akan ada waktu ketika semuanya kembali berjalan normal,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Ia juga mengindikasikan bahwa sekutu AS dapat ikut terlibat dalam operasi ini, termasuk Inggris yang disebut akan mengirim kapal penyapu ranjau.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$100 Senin (13/4) Pagi, Lonjakan 8% Dipicu Blokade Hormuz
Namun, laporan menyebutkan Inggris belum berencana terlibat langsung dalam blokade tersebut.
Di sisi lain, Iran menyebut tuntutan AS dalam negosiasi terlalu berlebihan. Meski demikian, Teheran masih membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan di masa mendatang.
Sejumlah analis menilai blokade ini sebagai strategi untuk menekan pendapatan Iran tanpa harus melakukan operasi militer langsung yang berisiko tinggi, seperti merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Namun, langkah tersebut tetap mengandung risiko besar, terutama jika dilakukan langsung di Selat Hormuz yang berada dalam jangkauan militer Iran.
Baca Juga: Israel Tunjuk Roman Gofman sebagai Kepala Mossad Baru
Sejak konflik dimulai, Iran menjadi satu-satunya negara Teluk yang masih mampu mengekspor minyak mendekati level sebelum perang, dengan volume sekitar 1,7 juta barel per hari pada Maret.
Trump juga menuding praktik pungutan yang dilakukan Iran terhadap kapal sebagai bentuk “pemerasan global” dan menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan di perairan internasional.













