kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.090   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.070   30,44   0,50%
  • KOMPAS100 796   7,20   0,91%
  • LQ45 604   5,46   0,91%
  • ISSI 210   0,38   0,18%
  • IDX30 342   3,08   0,91%
  • IDXHIDIV20 426   3,86   0,91%
  • IDX80 91   0,78   0,86%
  • IDXV30 116   0,62   0,54%
  • IDXQ30 110   0,94   0,86%

AS Blokade Kembali Pelabuhan Iran, Trump Ancam Serang Infrastruktur Energi


Rabu, 15 Juli 2026 / 10:12 WIB
AS Blokade Kembali Pelabuhan Iran, Trump Ancam Serang Infrastruktur Energi
ILUSTRASI. Ketegangan Selat Hormuz meningkat, serangan drone Iran ke pangkalan AS guncang kawasan. (via REUTERS/Amirhosein Khorgooi/ISNA/via WAN)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran pada Selasa (14/7/2026). Selain itu, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

Langkah tersebut menjadi eskalasi terbaru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Militer AS juga melancarkan gelombang serangan baru yang disebut bertujuan untuk "terus melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz".

Pemerintah Iran menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz setelah permusuhan antara Teheran dan Washington kembali pecah pekan lalu. Kondisi ini memperburuk gencatan senjata rapuh yang tercapai pada Juni lalu setelah berbulan-bulan pertempuran yang menewaskan ribuan orang.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa sektor energi Iran masih menjadi target utama Washington.

"Saya akan menyimpan target energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi," ujar Trump.

"Pekan depan giliran pembangkit listrik, pekan depan giliran jembatan, kecuali mereka mau kembali ke meja perundingan dan bernegosiasi," tambahnya.

Konvensi Jenewa 1949 tentang hukum humaniter internasional melarang serangan terhadap fasilitas yang dianggap penting bagi kehidupan sipil.

Baca Juga: Harga Rumah Baru China Masih Turun pada Juni, Pemulihan Pasar Properti Belum Merata

Trump juga mengungkapkan bahwa para negosiator Amerika Serikat telah berkomunikasi dengan pihak Iran untuk mendesak mereka segera mencapai kesepakatan.

"Kalian sebaiknya membuat kesepakatan," kata Trump, merujuk pada pesan yang disampaikan Washington kepada Teheran.

Di sisi lain, militer Iran pada Rabu (15/7/2026) dini hari mengklaim telah meluncurkan serangan drone terhadap pangkalan militer AS di Azraq, Yordania. Hingga kini, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait. Militer Kuwait mengatakan sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi serangan drone Iran, sementara kantor berita negara melaporkan bahwa kebakaran yang terjadi berhasil dikendalikan.

Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat

Memanasnya situasi dalam beberapa hari terakhir memunculkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dapat menghasilkan penghentian perang secara permanen. Konflik tersebut telah menyeret negara-negara tetangga Iran dan mengganggu pasokan energi global.

Media pemerintah Iran melaporkan proyektil Amerika menghantam wilayah di sekitar Bandar Abbas dan Sirik, dua kawasan strategis di selatan Iran yang berada dekat Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat tidak akan memaksa Teheran kembali berunding.

"Jika Amerika Serikat berpikir bahwa dengan memperketat tekanan terhadap kami, melalui aksi militer dan blokade ekonomi, kami akan kembali ke meja perundingan, maka mereka telah melakukan kesalahan," ujar Gharibabadi kepada televisi pemerintah.

Sebelum perang pecah pada Februari lalu, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia.

Amerika Serikat menyebut Iran telah menyerang tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir, menyebabkan hampir selusin awak kapal tewas, hilang, atau terluka.

Baca Juga: AI Jadi Mesin Cuan Baru Wall Street, IPO hingga Pinjaman Bank Melesat

Sebelumnya, Uni Emirat Arab melaporkan satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya terluka setelah dua kapal tanker minyak milik UEA terkena serangan rudal jelajah Iran di Selat Hormuz.

IRGC menyatakan dua kapal supertanker yang dianggap melanggar telah diserang dan dilumpuhkan setelah mengabaikan peringatan berulang kali. Namun, Iran tidak mengungkap identitas kapal-kapal tersebut.

Trump sempat mengusulkan penerapan biaya transit sebesar 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Usulan itu menuai kritik dari badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai pihak lainnya.

Pada Selasa, Trump membatalkan rencana tersebut dan menyatakan akan mencari kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk, meski tidak merinci bentuk kerja sama yang dimaksud.

Blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju dan meninggalkan pelabuhan Iran mulai diberlakukan kembali pada pukul 20.00 GMT setelah sebelumnya dicabut pada Juni lalu.

Trump menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh lalu lintas pelayaran internasional, kecuali kapal-kapal Iran. Militer AS menyebut lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut Amerika dan ratusan pesawat militer saat ini beroperasi di kawasan tersebut.

Harga minyak melonjak

Konflik berkepanjangan ini juga memicu tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Harga bensin meningkat, sementara pemilihan anggota Kongres dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 15% dalam tujuh hari terakhir menjadi US$ 85 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Perang yang dimulai pada Februari melalui serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik tersebut kemudian meluas ke sejumlah negara Teluk setelah Iran membalas serangan terhadap negara-negara tetangganya.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Fasilitas Armada Kelima AS di Bahrain, Ancam Jalur Ekspor Energi

Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu memperingatkan bahwa perpanjangan konflik melampaui pertengahan Juli akan menimbulkan risiko besar bagi ekonomi global, terutama karena banyak negara telah menguras cadangan minyak strategis untuk meredam dampak kenaikan harga energi terhadap konsumen.

Hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa separuh responden menilai perang tersebut tidak sebanding dengan biaya yang harus ditanggung.

Sebelumnya, Iran juga mengaku telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania. Bahrain, yang menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Amerika Serikat, melaporkan berhasil menggagalkan serangan udara Iran, sementara sejumlah negara Teluk lainnya juga dilaporkan terkena serangan.

Washington berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sesuatu yang dibantah oleh Teheran. Di sisi lain, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz.

Trump mengatakan beberapa negara, tanpa menyebut nama, telah menyampaikan minat untuk berinvestasi di Amerika Serikat dibandingkan membayar biaya transit. Namun, hingga kini belum jelas negara-negara Teluk mana yang telah menyetujui kesepakatan tersebut maupun bentuk komitmen investasi yang dimaksud.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×