Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Para sekutu Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Teluk memperingatkan Donald Trump tentang bahaya menyerang infrastruktur energi Iran. Bloomberg memberitakan, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, inilah yang membuat Presiden AS tersebut menarik ancamannya menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Sumber Bloomberg menyebut, Trump membuat keputusan membatalkan serangan ke infrastruktur energi Iran setelah beberapa sekutu memperingatkan, perang bisa dengan cepat menjadi bencana. Mitra regional AS di Teluk juga mengatakan bahwa kerusakan permanen pada infrastruktur Iran hampir pasti akan mengakibatkan negara gagal setelah konflik berakhir.
“Trump membutuhkan cara untuk meredakan ancaman yang pasti akan memulai babak eskalasi baru, kali ini melampaui ambang batas baru dengan menargetkan infrastruktur energi sipil, yang kemungkinan besar akan merupakan kejahatan perang,” kata Dana Stroul, mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan untuk Timur Tengah.
Baca Juga: Dua Kapal Gas Tembus Selat Hormuz ke India, Tapi Ribuan Kapal Masih Terjebak
Penarikan diri juga sejalan dengan kepentingan lain presiden: menenangkan pasar yang terguncang oleh ancamannya dan konflik yang sedang berlangsung. Keputusan Trump, yang diumumkan sesaat sebelum perdagangan AS dimulai, menurut beberapa sumber, sebagian dirancang untuk mengatasi kekhawatiran tersebut.
“Tentu bukan kebetulan bahwa pengumuman jeda lima hari dan pembicaraan terjadi tepat sebelum pasar dibuka di Amerika Serikat pada Senin pagi,” imbuh Stroul.
Presiden AS mengatakan, Senin (23/3/2026), ia memberi Iran waktu lima hari dan tidak akan melakukan serangan di periode tersebut. Trump menyebut pihaknya melakukan pembicaraan positif dengan pihak Teheran.
Baca Juga: Kim Jong Un Tegaskan Status Nuklir Korea Utara Tak Bisa Diganggu Gugat
Seorang diplomat senior mengatakan, Mesir, Turki, dan Pakistan, menjadi pengirim pesan antara AS dan Iran. Meskipun para pejabat bertindak sebagai perantara antara kedua negara, sama sekali tidak jelas sejauh mana negosiasi tersebut terjadi secara langsung.
Trump, berbicara pada hari Senin saat melakukan perjalanan ke Tennessee, mengatakan perwakilan dari Iran menghubungi untuk memulai pembicaraan karena negaa tersebut ingin mencapai kesepakatan setelah ancamannya untuk menyerang fasilitas energi.
“Kami telah bernegosiasi untuk waktu yang lama, dan kali ini, mereka serius, dan itu hanya karena pekerjaan hebat yang dilakukan militer kita,” kata Trump.
Pemerintahan Trump tampaknya percaya bahwa Iran akan dengan mudah menyetujui pembicaraan jika AS memberi sinyal bahwa mereka siap bernegosiasi. Tetapi, menurut sumber, sekutu AS khawatir negosiasi tidak akan berjalan dengan mudah.
Baca Juga: Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Klaim Trump Picu Kebingungan Pasar
Negosiasi antara seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, menantu Trump, Jared Kushner, dan penasihat Steve Witkoff, dimulai pada Sabtu dan berlanjut hingga Minggu, kata Trump. Menurut presiden AS, Teheran setuju untuk menyerahkan material nuklir di negara itu dan tidak melanjutkan program nuklirnya.
Namun, Iran menyangkal ada pembicaraan dengan AS. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut tidak ada negosiasi dengan AS dan menuding kabar itu sebagai upaya manipulasi pasar keuangan dan minyak.
“Trump mundur setelah mendengar bahwa target kami adalah semua pembangkit listrik di Asia Barat,” lapor kantor berita semi-resmi Iran, Fars, mengutip sumber anonim Iran.
Baca Juga: Trump Tunda Serangan Aset Energi Iran, Harga Emas Mulai Bertenaga
Tapi sejumlah negara lain mengamini adanya pembicaraan Iran dengan AS. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pemerintahnya mengetahui pembicaraan dengan Iran.
“Saya menyambut baik pembicaraan yang dilaporkan antara AS dan Iran, dan untuk memperjelas kepada komite, kami, Inggris, mengetahui bahwa hal itu sedang terjadi,” kata Starmer.
Financial Times melaporkan, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir berbicara dengan Trump pada Minggu. Sementara Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif mengadakan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin.
Baca Juga: Trump Tunda Mengebom Jaringan Listrik Iran, Tiga Negara Ini Jadi Mediator
Sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung menuturkan, keputusan Trump menghentikan serangan juga merupakann upaya mengendalikan harga minyak. Trump mengakui ini. "Harga minyak akan turun drastis segera setelah kesepakatan tercapai," kata Trump.
Kendati begitu, banyak pihak masih meragukan kesepakatan nyata bisa tercapai. Pasalnya, Trump sendiri punya rekam jejak sering menarik diri dari ancaman maksimalis. Di sisi lain, Iran diketahui kerap mengulur-ulur pembicaraan nuklir.
“Presiden juga telah menunjukkan kecenderungan untuk mengalihkan perhatian, dan kita tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa tenggat waktu 48 jamnya mungkin memberikan kedok untuk beberapa peristiwa jangka pendek yang dapat mengubah fakta di lapangan,” kata Clearview Energy Partners LLC dalam riset.
Berbagai negara Timur Tengah, termasuk Turki, Arab Saudi, dan Oman, telah terlibat dalam pembicaraan rahasia dengan Iran dalam dua minggu terakhir untuk mencoba menahan perang dan, idealnya bagi mereka, membuat Republik Islam dan koalisi AS-Israel menyetujui gencatan senjata.













