kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.354   10,00   0,06%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Efek kesehatan jangka panjang Covid-19, WHO: Kami pun belum mengetahuinya


Rabu, 16 September 2020 / 12:47 WIB
ILUSTRASI. WHO masih belum mengetahui efek kesehatan jangka panjang akibat Covid-19.


Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku belum benar-benar memahami dampak kesehatan jangka panjang akibat Covid-19, terutama pada anak-anak yang berhasil sembuh dari penyakit ini.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keraguan ini pada pengarahan harian di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss, Selasa (15/9).

WHO menyampaikan, anak-anak dan remaja memang berisiko terinfeksi virus corona baru. Hanya saja, tingkat infeksi yang dialami cenderung lebih ringan dan hanya sedikit kasus yang parah.

Kasus kematian pada anak-anak akibat Covid-19 juga terbilang cukup rendah.

Baca Juga: Dampak corona, 160 juta orang di Asia akan memasuki jurang kemiskinan

"Data yang kami miliki menunjukkan, kurang dari 10% kasus dan kurang dari 0,2% kematian akibat Covid-19 dialami orang di bawah usia 20 tahun," ungkap Tedros seperti dikutip kantor berita TASS.

Terkait dengan efek kesehatan jangka panjang yang mungkin dialami para anak-anak dan remaja, WHO mengaku belum benar-benar yakin.

"Diperlukan lebih banyak penelitian tentang faktor-faktor yang meningkatkan risiko gejala yang parah dari Covid-19 pada anak-anak dan remaja. Dan untuk efek kesehatan jangka panjang pada mereka, kami masih belum mengetahuinya," ujar Tedros.

Anak-anak, WHO menyebutkan, cukup terhindar dari virus corona yang mengudara sejak awal tahun ini. Tapi, mereka bisa terkena dampaknya melalui cara lain.

Baca Juga: Orang tanpa gejala bisa tularkan virus corona? Ini kata WHO

Di banyak negara, dengan layanan imunisasi dan asupan nutrisi yang terganggu, anak-anak akan mengalami ancaman yang lebih intens.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, tingkat kerentanan pada anak-anak akan semakin meningkat. Dampak kesehatan jangka panjang pun mungkin saja terjadi.

"Mengingat konsekuensi yang  buruk pada anak-anak, remaja, dan masyarakat kita secara keseluruhan, keputusan untuk menutup sekolah adalah pilihan terakhir, sementara, dan hanya di daerah dengan penularan yang intens," ungkap Tedros.

Selanjutnya: PSBB Jakarta berlaku lagi, perhatikan 8 saran WHO berikut untuk cegah virus corona




TERBARU

[X]
×