kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.992   -10,00   -0,06%
  • IDX 5.194   -84,72   -1,60%
  • KOMPAS100 668   -12,10   -1,78%
  • LQ45 521   -8,97   -1,69%
  • ISSI 176   -3,27   -1,82%
  • IDX30 293   -4,53   -1,52%
  • IDXHIDIV20 382   -6,75   -1,73%
  • IDX80 77   -1,28   -1,64%
  • IDXV30 106   -1,93   -1,79%
  • IDXQ30 97   -1,31   -1,34%

Elon Musk Buka Peluang Merger SpaceX-Tesla, Bisnis AI Jadi Pendorong


Rabu, 21 Oktober 2026 / 09:11 WIB
Elon Musk Buka Peluang Merger SpaceX-Tesla, Bisnis AI Jadi Pendorong
ILUSTRASI. SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Elon Musk membuka peluang penggabungan dua perusahaan miliknya, SpaceX dan Tesla.

Kedua perusahaan telah membentuk komite khusus untuk membahas potensi merger, seiring meningkatnya keterkaitan bisnis kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, robotika, kendaraan listrik, dan teknologi antariksa.

Mengutip Reuters, Selasa (20/10/2026), Musk menyebut merger tersebut sebagai gagasan yang menarik. Namun, ia menegaskan keputusan akhir berada di tangan komite khusus yang dibentuk oleh masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Manchester City Terancam Dijual Paksa Buntut Kasus Pelanggaran FFP

“Saya pikir itu akan menjadi ide yang bagus, tetapi keputusan sepenuhnya berada di tangan komite khusus kedua perusahaan,” ujar Musk dalam konferensi dengan investor.

Musk mengatakan dirinya tidak terlibat langsung dalam pembahasan merger karena memiliki kepentingan di kedua perusahaan.

Komite tersebut terdiri dari jajaran direktur independen dan dibentuk atas permintaan pemegang saham. Persetujuan pemegang saham juga diperlukan jika transaksi dilanjutkan.

Meski demikian, Musk mengingatkan bahwa merger belum tentu terealisasi. Kedua komite belum menyepakati persyaratan transaksi dan masih terbuka kemungkinan pembahasan berakhir tanpa kesepakatan.

Spekulasi mengenai penggabungan kedua perusahaan menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa transaksi berpotensi membuat SpaceX mengakuisisi Tesla.

Baca Juga: KOSPI Bangkit dari Level Terendah 6 Bulan Rabu (21/10), Saham Samsung Melonjak

Tesla juga disebut telah bekerja sama dengan bank investasi untuk memberikan masukan terkait pembahasan tersebut.

Musk memiliki hampir seperlima saham Tesla dan sedikit di bawah separuh saham SpaceX. Analis menilai penggabungan kedua perusahaan berpotensi memperkuat kendali Musk atas entitas gabungan.

Kabar pembentukan komite khusus tersebut mendorong saham SpaceX naik 8% dalam perdagangan setelah penutupan bursa. Sementara itu, saham Tesla menguat 1,8% pada perdagangan yang sama.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Rabu (21/10), Dolar Australia Menguat Berkat Sinyal Kenaikan Bunga

Bisnis AI dorong pertumbuhan SpaceX

Potensi merger muncul ketika bisnis SpaceX mengalami perubahan signifikan. Perusahaan antariksa tersebut semakin mengandalkan bisnis AI dan penyewaan kapasitas pusat data, selain layanan internet satelit Starlink dan peluncuran roket.

Pendapatan SpaceX melonjak 161% menjadi US$ 14,58 miliar pada kuartal III-2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dari bisnis AI bahkan meningkat hampir 10 kali lipat menjadi US$ 7,56 miliar.

Sebagian besar pendapatan AI tersebut berasal dari penyewaan kapasitas pusat data kepada pengembang teknologi, termasuk Anthropic, Google milik Alphabet, dan Reflection AI, bukan semata-mata dari pengembangan model AI milik sendiri.

Kinerja tersebut turut mendongkrak profitabilitas SpaceX. Perusahaan membukukan laba bersih US$ 4,4 miliar pada kuartal III-2026, berbalik dari rugi bersih US$ 1,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 16,7% pada September 2026, Ditopang Permintaan Chip AI

Laba tersebut juga melampaui ekspektasi analis sebesar US$ 1,57 miliar. Berdasarkan perhitungan IBES, laba per saham yang disesuaikan mencapai US$ 0,45, lebih tinggi dibandingkan konsensus analis sebesar US$ 0,13.

Namun, ekspansi AI membutuhkan belanja modal yang besar. Pengeluaran modal SpaceX hampir tiga kali lipat menjadi US$ 19,6 miliar pada kuartal III-2026.

Chief Financial Officer SpaceX Bret Johnsen memperkirakan belanja modal pada kuartal IV-2026 mencapai US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar.

Chief Executive Officer GraniteShares Will Rhind mengatakan kinerja pendapatan SpaceX pada kuartal III-2026 menunjukkan bahwa kontrak komputasi yang ditandatangani awal tahun mulai menghasilkan pendapatan lebih cepat dari perkiraan sebagian pelaku pasar.

Menurut Rhind, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa bisnis AI kini menjadi salah satu faktor utama yang membentuk prospek SpaceX.

Musk juga memperkirakan pendapatan berulang tahunan SpaceX dapat mencapai US$ 500 miliar hingga US$ 1 triliun pada akhir 2027, seiring meningkatnya permintaan kapasitas pusat data untuk mendukung pengembangan AI.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Rabu (21/10), Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed

Sinergi teknologi hingga robotika

Musk menilai penggabungan SpaceX dan Tesla berpotensi menghasilkan sinergi di sejumlah bidang teknologi.

Selain pengembangan perangkat lunak AI, kedua perusahaan dapat berkolaborasi dalam desain cip, fasilitas produksi semikonduktor Terafab, robotika, serta pengembangan infrastruktur komputasi di luar angkasa.

Terafab, usaha patungan kedua perusahaan di bidang manufaktur cip, ditargetkan menghasilkan cip uji coba pertama sekitar Mei atau Juni 2027. Produksi dalam skala besar ditargetkan dimulai pada kuartal III-2028.

Sementara itu, bisnis Starlink terus berkembang. Layanan internet satelit tersebut mencatat 13,6 juta pelanggan pada kuartal III-2026, melampaui perkiraan analis sebesar 12,19 juta pelanggan.

Meski jumlah pelanggan meningkat, rata-rata pendapatan bulanan per pelanggan turun menjadi US$ 69 pada kuartal III-2026, dari US$ 99 pada 2023.

Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Periode 1–20 Oktober 2026 Melonjak 105%, Penjualan Chip Rekor

Penurunan tersebut sejalan dengan ekspansi ke pasar internasional melalui penawaran paket berharga lebih terjangkau.

Dalam jangka panjang, strategi SpaceX juga bergantung pada keberhasilan pengembangan Starship, sistem roket generasi terbaru yang dapat digunakan kembali.

Teknologi tersebut diharapkan mendukung peluncuran satelit Starlink dengan kapasitas lebih besar serta pengembangan infrastruktur komputasi AI di orbit.

Dengan bisnis AI yang tumbuh pesat dan kebutuhan investasi infrastruktur yang semakin besar, potensi merger SpaceX-Tesla membuka peluang integrasi berbagai teknologi milik Musk.

Namun, realisasi transaksi masih bergantung pada hasil pembahasan komite independen dan persetujuan pemegang saham.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×