Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eropa semakin menyoroti pentingnya kedaulatan teknologi di tengah dominasi Amerika Serikat dalam industri kecerdasan buatan (AI).
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam rangkaian pertemuan G7 di Prancis dan konferensi teknologi VivaTech di Paris pekan ini, ketika negara-negara Eropa berupaya memperkuat kemampuan AI domestik di tengah ketergantungan yang masih besar pada teknologi asal AS.
Kekhawatiran itu menguat setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) memperketat pembatasan akses terhadap model AI tercanggih milik Anthropic bagi warga negara asing.
Baca Juga: Raksasa Teknologi AS Diproyeksikan Investasi US$650 Miliar untuk AI pada 2026
Langkah tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa ambisi Eropa membangun juara AI lokal masih rentan terhadap perubahan kebijakan Washington.
Wakil Presiden Senior IBM, Ana Paula Assis, mengatakan isu kedaulatan teknologi akan menjadi perhatian utama dalam berbagai diskusi di VivaTech.
Menurutnya, kedaulatan tidak semata-mata ditentukan oleh asal teknologi, melainkan oleh kemampuan organisasi untuk mengendalikan teknologi yang digunakan pada aspek-aspek strategis.
Perdebatan ini mencerminkan dilema besar yang dihadapi Eropa. Di satu sisi, kawasan tersebut ingin memiliki otonomi strategis di bidang teknologi.
Namun di sisi lain, perusahaan-perusahaan Eropa masih sangat bergantung pada raksasa teknologi Amerika yang mendominasi layanan komputasi awan, desain semikonduktor, hingga pengembangan model AI mutakhir.
Dalam forum G7 yang berlangsung di Evian, Prancis, para pemimpin negara bertemu dengan eksekutif perusahaan AI global seperti Anthropic, OpenAI, Google, dan Mistral untuk membahas daya saing AI, regulasi, serta ketergantungan terhadap pasokan mineral kritis dari China.
Sementara itu, konferensi VivaTech diperkirakan dihadiri lebih dari 180.000 peserta yang terdiri dari startup, investor, pembuat kebijakan, hingga pelaku industri teknologi dunia.
Baca Juga: AS Izinkan Ekspor Chip AI Nvidia H200 ke China dengan Syarat Ketat
Selain inovasi teknologi, diskusi mengenai geopolitik dan strategi industri diperkirakan mendominasi agenda acara.
Perusahaan AI asal Prancis, Mistral, yang dipandang sebagai kandidat terkuat Eropa dalam persaingan AI global, terus memperluas kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Eropa, khususnya di sektor-sektor yang dianggap menjadi keunggulan kawasan tersebut.
Meski investasi miliaran euro terus mengalir ke sektor AI, perusahaan-perusahaan Eropa masih mengandalkan infrastruktur cloud, chip, dan model AI dasar yang sebagian besar dikendalikan oleh perusahaan Amerika.
Prancis menjadi salah satu negara yang paling vokal mendorong kemandirian teknologi Eropa. Pemerintah setempat bahkan mulai berupaya mengurangi penggunaan penyedia layanan teknologi asal AS untuk berbagai layanan publik.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menegaskan bahwa negaranya tidak bisa terus bergantung pada alat-alat yang dikembangkan oleh kekuatan asing.
"Prancis harus memiliki teknologinya sendiri," ujarnya.
Komisi Eropa juga semakin menempatkan AI sebagai isu ekonomi sekaligus keamanan nasional.
Otoritas tersebut baru-baru ini meluncurkan rencana pembangunan "gigafactory" AI dan infrastruktur komputasi skala besar guna memastikan Eropa memiliki akses mandiri terhadap daya komputasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi AI.
Baca Juga: 5 Pekerjaan Kelas Menengah Akan Tergeser AI yang Bisa Ancam Stabilitas Finansial
Selain itu, Uni Eropa tengah menyiapkan berbagai regulasi dan insentif untuk memperkuat industri cloud, AI, dan semikonduktor domestik.
Namun, sejumlah pengamat menilai Eropa masih tertinggal beberapa tahun dibandingkan Amerika Serikat dalam perlombaan teknologi AI.
Operator telekomunikasi Orange menilai perkembangan terbaru semakin menegaskan pentingnya Eropa memiliki layanan AI yang dapat dikendalikan sendiri dan tidak berisiko dihentikan sewaktu-waktu akibat keputusan politik negara lain.
Meski demikian, upaya memperkuat kedaulatan teknologi bukan tanpa tantangan. Chief Operating Officer Capgemini Karine Brunet mengatakan penggunaan alternatif cloud asal Eropa dapat menimbulkan biaya tambahan hingga 40% dibandingkan layanan yang tersedia saat ini.
Managing Director VivaTech Francois Bitouzet menilai solusi bagi Eropa bukan sekadar mengganti satu penyedia teknologi dengan penyedia lain.
Baca Juga: AS Dorong Ekspor AI dan Teknologi Maritim di APEC untuk Menyaingi China
Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun strategi teknologi yang lebih tangguh dengan memanfaatkan inovasi Eropa untuk komponen-komponen paling kritis, sembari tetap bekerja sama dengan mitra global pada sektor yang memang membutuhkan kolaborasi internasional.













