kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

FAO Sebut Harga Pangan Global Naik ke Level Tertinggi Sejak 2023, Apa Pemicunya?


Jumat, 08 Mei 2026 / 17:04 WIB
FAO Sebut Harga Pangan Global Naik ke Level Tertinggi Sejak 2023, Apa Pemicunya?
ILUSTRASI. Beragam Komoditas: Emas Minyak, Tambang, Nikel (Reuters/Reuters Staff)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga pangan dunia naik pada April 2026 ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, didorong lonjakan harga minyak nabati akibat gangguan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya biaya energi global, kata Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Jumat (8/5).

Food and Agriculture Organization melalui Kepala Ekonomnya Máximo Torero menyebutkan bahwa harga minyak nabati terdorong naik karena tingginya biaya energi yang turut meningkatkan permintaan biofuel berbasis komoditas pertanian, seperti tanaman penghasil minyak.

Baca Juga: Perang Iran Hantam Toyota, Laba Anjlok dan Beban Tembus US$ 4,3 Miliar

Ia menambahkan, meskipun terdapat gangguan akibat konflik, sistem pangan global masih menunjukkan ketahanan, terutama pada komoditas serealia yang hanya naik terbatas berkat pasokan yang masih memadai dari musim sebelumnya.

Indeks Harga Pangan FAO, yang mengukur perubahan harga komoditas pangan global yang diperdagangkan secara internasional, naik untuk bulan ketiga berturut-turut pada April menjadi 130,7 poin.

Angka tersebut naik 1,6% dibandingkan Maret dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2023.

Sebagai perbandingan, indeks tersebut sempat mencapai puncak 160,2 poin pada Maret 2022 setelah pecahnya perang Ukraina.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada minyak nabati, yang melonjak 5,9% secara bulanan ke level tertinggi sejak Juli 2022.

Kenaikan ini dipicu oleh harga minyak kedelai, bunga matahari, rapeseed, dan sawit, dengan dukungan tambahan dari kebijakan insentif biofuel di sejumlah negara.

Baca Juga: Kasus Suspek Hantavirus di Kapal Pesiar Bertambah, WHO Tingkatkan Kewaspadaan

Sementara itu, harga serealia hanya naik 0,8% dibandingkan Maret dan 0,4% secara tahunan.

Kenaikan terbatas ini mencerminkan sedikit penguatan harga gandum dan jagung akibat kekhawatiran cuaca, kenaikan biaya pupuk, serta meningkatnya permintaan untuk biofuel.

FAO juga mencatat adanya ekspektasi penurunan luas tanam gandum pada 2026 karena petani mulai beralih ke tanaman yang lebih hemat pupuk, seiring melonjaknya harga input pertanian.

Di sisi lain, harga daging naik 1,2% secara bulanan dan mencetak rekor tertinggi, dipengaruhi terbatasnya pasokan ternak siap potong di Brasil.

Sementara itu, harga gula turun 4,7% karena proyeksi pasokan yang melimpah dari Brasil, China, dan Thailand.

Dalam laporan terpisah, FAO sedikit menaikkan proyeksi produksi serealia global 2025 menjadi rekor 3,040 miliar ton, atau 6% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×