kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Filipina: Di manakah ASEAN dalam persaingan AS-China di Laut China Selatan?


Rabu, 25 November 2020 / 20:17 WIB
Filipina: Di manakah ASEAN dalam persaingan AS-China di Laut China Selatan?
ILUSTRASI. Kelompok Serang Kapal Induk Theodore Roosevelt dan Kelompok Serang Kapal Induk Nimitz Angkatan Laut AS berlayar di Laut Filipina, 23 Juni 2020.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - MANILA. Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan, ketegangan di Laut China Selatan akan meningkat karena persaingan Amerika Serikat (AS) dan China, yang sejatinya bisa dikendalikan jika negara-negara Asia Tenggara mengambil sikap bersatu untuk memengaruhi status quo.

Menurut Lorenzana dalam sebuah forum keamanan, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) terjebak dalam pertempuran AS-China yang memperebutkan pengaruh regional, tetapi sebetulnya bisa berbuat lebih banyak untuk memastikan stabilitas dan harus mengambil pendekatan bersama.

"Di manakah ASEAN dalam persaingan negara adidaya ini? Meskipun mengakui sentralitas ASEAN, itu sama sekali tidak," kata Lorenzana, Rabu (25/11), seperti dikutip Reuters.

"ASEAN akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada masalah dan peristiwa di Laut Cina Selatan jika saja bisa bertindak sebagai satu kesatuan," tegas dia.

Baca Juga: Kapal amfibi & kapal rudal siluman China gelar latihan perang di Laut China Selatan

Laut China Selatan penting bagi banyak negara

Filipina, Malaysia, Brunei, dan Vietnam memiliki klaim yang tumpang tindih dengan China. Dan semua kecuali Brunei telah terlibat dalam kebuntuan tahun ini dengan kapal-kapal China.

China mengatakan, mereka memiliki kedaulatan historis atas sembilan per sepuluh Laut China Selatan. Beijing tidak mengakui putusan arbitrase internasional 2016 yang membatalkan klaim tersebut.

Lorenzana menyatakan, masalah Laut China Selatan menjadi fokus utama selama diskusi sejak Mei dengan mitra Filipina di Jepang, China, Australia, Prancis, dan Amerika Serikat.

"Apa artinya ini bagi kami? Laut China Selatan penting bagi banyak negara," sebut dia.

Baca Juga: China: Fakta membuktikan, AS pendorong terbesar militerisasi di Laut China Selatan

"Ketegangan di Laut China Selatan akan terus meningkat karena China akan terus menuduh AS dan negara-negara lain melakukan provokasi dan destabilisasi, bahwa Barat mencoba menahan kebangkitan China," katanya.

China telah meningkatkan kehadiran penjaga pantai dan latihan militer tahun ini, termasuk di dekat pulau-pulau yang juga diklaim oleh Vietnam. Sementara AS mengerahkan kapal perang untuk menunjukkan kebebasan navigasi. Mereka saling menuduh melakukan provokasi yang disengaja.

Lorenzana mengatakan, Asia Tenggara khawatir risiko konflik bersenjata meningkat. Filipina, sekutu AS, katanya, "akan terlibat, apakah dia suka atau tidak".

Selanjutnya: Tantang China, kapal rudal USS Barry unjuk gigi di Laut China Selatan

 




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×