Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Filipina menuduh China menghambat misi pengiriman pasokan kepada personel militernya yang berada di atas kapal perang era Perang Dunia II yang sengaja dikandaskan di Laut China Selatan.
Melansir Reuters Jumat (25/9/2026), penjaga Pantai Filipina atau Philippine Coast Guard (PCG) mengatakan kapal-kapal China melakukan manuver berbahaya saat menghalangi misi pengiriman pasokan menuju Second Thomas Shoal pada Kamis (24/9/2026).
Juru bicara PCG untuk isu Laut China Selatan, Jay Tarriela, mengatakan tidak terjadi tabrakan maupun korban dalam insiden tersebut. Namun, manuver kapal China dinilai meningkatkan risiko kecelakaan.
Baca Juga: Investor Jepang Borong JGB, Pembelian Asing Merosot Tajam
"Tidak ada tabrakan dan tidak ada yang terluka, tetapi manuver berbahaya Penjaga Pantai China menciptakan risiko tabrakan yang serius," kata Tarriela.
PCG menuding China Coast Guard bersama Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China atau People's Liberation Army Navy (PLA Navy) telah menghalangi operasi yang disebut Manila sebagai misi kemanusiaan dan pengiriman kebutuhan untuk personel di Second Thomas Shoal.
Menurut PCG, tindakan tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional maupun putusan arbitrase internasional 2016 yang membatalkan klaim luas China atas wilayah di Laut China Selatan.
Filipina meminta China menghentikan tindakan yang dianggap mengganggu misi pengiriman pasokan yang dilakukan Manila. PCG juga menegaskan akan terus menjalankan operasi di Laut China Selatan serta menggunakan hak berdaulat dan yurisdiksinya di wilayah tersebut.
Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait tuduhan tersebut.
Baca Juga: Yield US Treasury Melonjak, Saham Asia Masih Bertahan di Tengah Tekanan Pasar
Second Thomas Shoal menjadi salah satu titik sengketa antara Filipina dan China. Manila menempatkan personel militernya di atas BRP Sierra Madre, kapal perang era Perang Dunia II yang sengaja dikandaskan di kawasan tersebut pada 1999.
Pada 2024, Filipina dan China mencapai kesepakatan sementara mengenai mekanisme misi pengiriman pasokan ke Second Thomas Shoal.
Kementerian Luar Negeri Filipina sebelumnya mengatakan pengaturan tersebut membantu mencegah konfrontasi antara kedua negara selama pelaksanaan misi.
Namun, ketegangan tetap terjadi di sejumlah wilayah Laut China Selatan. Pada Juli, Filipina menuduh China Coast Guard menembakkan meriam air ke kapal pemerintah Filipina di dekat Scarborough Shoal.
Dalam insiden terpisah di sekitar Second Thomas Shoal, Manila juga menuduh personel China memukul anggota staf Angkatan Laut Filipina menggunakan tongkat kayu.
Baca Juga: Uni Eropa Mendesak Inggris untuk Menaikkan Tarif Mobil China
Ketegangan di Laut China Selatan menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan jalur perdagangan dan pelayaran penting bagi aktivitas ekonomi Asia.
Perselisihan antara negara-negara yang memiliki klaim wilayah berpotensi meningkatkan risiko terhadap keamanan pelayaran dan aktivitas maritim di kawasan.














