Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MANILA. Pemerintah Filipina menegaskan tidak mentoleransi segala bentuk ancaman kekerasan terhadap pejabat asing setelah lima peti mati berisi pesan anti-China ditemukan di sejumlah titik di Manila, Jumat (7/8/2026).
Insiden ini memicu protes resmi dari China dan kembali menyoroti rapuhnya hubungan kedua negara yang tengah bersitegang akibat sengketa di Laut China Selatan.
"Kami tidak mentoleransi ancaman kekerasan terhadap pejabat asing. Tindakan tersebut tidak mencerminkan pendekatan pemerintah Filipina dalam menjalankan hubungan luar negeri maupun cara rakyat Filipina menyampaikan kritik, termasuk terhadap isu politik yang sensitif," tegas Kementerian Luar Negeri Filipina dalam pernyataannya.
Baca Juga: Filipina Sebut Temuan Sianida di Laut China Selatan sebagai Dugaan Sabotase
Kepolisian Filipina menemukan lima peti mati yang ditinggalkan di berbagai lokasi di ibu kota sebelum fajar. Salah satunya diletakkan di depan Kedutaan Besar China di Manila. Hingga kini, aparat masih menyelidiki pelaku di balik aksi tersebut.
Di dalam peti mati ditemukan berbagai pesan bernada anti-China. Salah satunya menampilkan foto Presiden China Xi Jinping, Menteri Luar Negeri Wang Yi, serta Duta Besar China untuk Filipina Jing Quan, disertai tulisan "greedy" atau "serakah".
Menanggapi insiden tersebut, pemerintah China melalui Kedutaan Besarnya di Manila telah menyampaikan nota protes resmi kepada pemerintah Filipina.
Beijing menyebut aksi itu sebagai provokasi politik dan mendesak otoritas Filipina segera mengusut kasus tersebut serta membawa pelakunya ke proses hukum.
Juru bicara Kedutaan Besar China, Ji Lingpeng, menilai peti-peti mati itu sengaja digunakan untuk memicu permusuhan antara masyarakat Filipina dan China.
Baca Juga: China dan Filipina Saling Lempar Tuduhan Atas Laut China Selatan
Namun, menurutnya, tindakan tersebut tidak akan menggoyahkan upaya menjaga hubungan bilateral yang stabil antara kedua negara.
Insiden ini terjadi ketika hubungan Manila dan Beijing kembali berada dalam tekanan akibat sengketa wilayah di Laut China Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara berulang kali terlibat konfrontasi di kawasan perairan yang diklaim oleh masing-masing pihak, sehingga memperburuk ketegangan diplomatik di kawasan.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
